Sabtu, 10 Juli 2010

Kotbah Romo Yoannes Haryatmoko, SJ

”Belas Kasih Allah yang Menghidupkan.”
Injil Lukas 4 : 21 – 30
Ekaristi Tgl 7 Maret 2010

Saudara-saudara yang terkasih Injil ini sangat menarik untuk menjelaskan bagaimana orang Kristiani kita sebagai pengikut Kristus, menghadapi penderitaan. Memberi makna kepada penderitaan dan bagaimana pertobatan mempunyai arti ditengah-tengah penderitaan ini. Injil ini dilatar belakangi oleh peristiwa sejarah yang sangat tragis, yaitu orang Galilea yang darahnya dicampurkan dengan darah korban yang dipersembahkan, berkat peristiwa delapan belas orang mati ditimpa di dekat Siloam.
Peristiwa pertama yaitu pembunuhan orang Galilea. Ada sumber di luar kitab Suci yang menceritakan, dikatakan bahwa pembunuah terhadap orang Galilea itu dilakukan oleh tentara Romawi, atas suruhan Pilatus, pada tahun 35 sebelum Masehi. Para kurban pembunuhan itu adalah kelompok pembelot. Mereka dibunuh ketika sedang merayakan paskah di gunung Garidieu. Mereka adalah kelompok penentang penjajahan Romawi.
Saudarau-saudara bisa mem-bayangkan ketika mereka di gunung Garidieu merayakan Paskah, tentara Romawi lewat dan mereka mengejek tentara Romawi itu, lalu tentara Romawi membalas dengan pembunuhan. Apa yang menjadi maslah dengan dua peristiwa tragis itu. Yang menjadi masalah adalah menghubungkan penderitaan dengan hukuman atas dosa. Sebagian besar orang Yahudi dan dalam perjanjian lama banyak dikisahkan kecelakaan, musibah, penderitaan itu dianggap sebagai hukuman atas dosa. Seakan-akan para korban itu lebih berdosa dari mereka yang tidak kena mala petak itu. Dan anggapan orang yahudi ini dirumuskan diterjemahkan dengan bagus oleh Yesus dengan pertanyaan dalam Inji ini, ” Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea lain karena mereka mengalami nasib seperti itu? Dan Yesus menjawab dengan tegas, ” Tidak, tetapi jika kamu tidak bertobat kamu semua akan binasa dengan cara demikian.” dengan kata lain, Yesus, menyanggah bahwa penderitaan, sakit, mukjizat itu bukan hukuman Tuhan, jadi peristiwa tragis itu menjadi peringatan supaya kita mau bertobat. Lalu bagaimana menjelaskan jawaban Yesus bahwa itu bukan hukuman, dan bahwa peristiwa tragis itu adalah peringatan untuk bertobat.
Biasanya ada empat pola, ada empat model, untuk menjelaskan atau memahami penderitaan. Yang pertama penderitaan sebagai hukuman. Yang kedua penderitaan dianggap sebagai tes atau cobaan, untuk melihat apakah orang setia dan takut pada Tuhan. Dan yang ketiga penderitaan dijelaskan sebagai jalan untuk mengantar ke kehidupan abadi. Dan yang keempat, penderitan dilihat sebagai misteri, maksudnya apa, dibalik kejahatan, dibalik penderitaan jangan-jangan tersembunyi suatu kebaikan.
Yang petama penderitaan dilihat sebagai hukuman. Biasanya kalau kita melihat penderitaan sebagai hukuman atas dosa, kita lalu akan tergoda untuk bertanya mengapa? Dan kalau bertanya mengapa lalu kita berpikir tentang sebab itu, atau asal usul, lalu mengajak kita berpikir kebelakang. Apa kesulitan berpikir demikian, lalu kecenderungannya kita hanya sibuk mencari siapa yang salah. Atau sibuk menyalahkan diri kita sendiri. Sehingga tidak mencari bagaimana mengatasinya. Kita cenderung mencari kambing hitam. Dan kalau penderitaan hanya dimengerti sebagai suatu pembalasan cara memahami ini justru ditentang dalam buku Ayub, mengapa ditentang dalam buku Ayub. Ayub adalah orang yang saleh, orang yang suci, mengapa dia menderita. Orang itu juga bagaimana dengan orang-orang jahat, koruptor yang hidup sehat, hidup nyaman. Bagaimana, dimana penderitaan, di mana hukuman itu? Bahkan Yeremia di dalam bab 12 juga protes kepada Tuhan, dikatakan demkian,
“Bagaimana mungkin orang-orang jahat itu mujur hidupnya, bagaimana mungkin mereka yang tidak setia kepadaMu hidup sentosa?” Jadi kalau orang melihat bahwa penderitaan sebagai hukuman dikatakan disini bahwa itu tidak benar. Bukan karena hukuman penderitaan.
Lalu yang kedua, penderitaan dilihat sebagi tes, atau pencobaan, untuk dilihat apakah setia atau takut kepada Tuhan. Contoh yang menarik adalah bagaimana pengorbanan Ishak oleh Abraham. Hanya kesulitannya pemahaman seperti ini adalah apa? Yaitu sebetulnya kita masih berpikir tentang pembalasan, mengapa? Kalau kita masih mengeluh atas ketidak adilan, itu berarti kita masih masuk di dalam lingkaran pembalasan. Kalau kita meratap, itu berarti kita masih ingin membalas. Pertanyaannya adalah mungkinkah Tuhan mencobai kita. Mungkinkah Tuhan tega mencobai kita. Lalu bagaimana memahaminya, bukankah penderitaan sebagai akibat dari tingkah laku dan keputusan tindakan kita. Yang pertama tadi sebagai hukuman. Penderitaan sebagai hukuman lalu kita sering cenderung mencari keselahan orang lain, sibuk mencari kesalahan orang lain. Itu ada cerita.
Seorang Pisikolog yang terkenal sering direkrut, dikontrak untuk merekrut tenaga kerja. Tetapi Pisikolog ini tidak punya telinga. Maka ketika ada pelamar yang dipanggil diwawancarai dia mengatakan, ”Ini tes oserfasi saya ingin bertanya kepada anda. Apa yang anda lihat dari saya?
Tentu saja si pelamar, berkata ”Bapak tidak penya telinga.”
Tersinggung langsung, ”Keluar.” kamu tidak diterima.
Lalu yang kedua masuk tes Oserfasi, ”Apa yang anda lihat pada diri saya?”
”Bapak tidak punya telinga.” tersinggung marah, ”Anda keluar, anda tidak diterima.”
Lalu yang ketiga masuk, di tes, tes Oserfasi, ” Apa yang anda lihat pada diri saya?”
”O... Bapak memakai lensa kontak, kontak lens.” wa.. dia senang.. berkediplah dia.
”Kok kamu bisa tahu, bahwa saya pakai lensa kontak.”
Lalu yang ketiga menjawab, ”Ya kalau bapak pakai kacamata, kacamatanya jatuh karena bapak tidak punya telinga.” Ger...
Suadara-saudara saya akan mengatakan apa, ”Kecenderungan kalau orang itu menderita, penderitaan itu sering mudah membuat menyalahkan orang lain. Mudah membuat lalu kita merasa bahwa seakan-akan selalu diluar diri kita, sulit untuk menerima bahwa yang menyebabkan penderitaan adalah diri kita sendiri.”
Sedangkan yang kedua sebagai tes, sebagai cobaan, kelemahannya apa, kelemahannya adalah kita cenderung akan mudah mengadili orang lain. Kita akan mudah denga mudah membuat, atau membicarakan mengatakan yang jelek kepada orang lain. Yang kedua ini hanya berarti tidak ada kesal. Tetapi bila tidak cara pemahaman kedua tidak bisa kita pegang.
Ada cerita di dalam perjalanan di kereta Api ada seorang romo duduk di depannya ada pemuda yang mabuk, masih membawa setengah botol beer, melihat pemuda itu romo ini sudah tidak senang. Dan pemuda itu didepannya karena tidak sreg lalu membaca koran. Romonya diam saja, dia ingin memecah kesunyian lalu tanya, kepada romonya. “Romo apa yah yang menyebabkan penyakit Atrisis itu.”
Romonya karena sudah jengkel terganggu lalu menjawab, “Atrisis itu karena hidup tidak teratur, banyak terlalu minum alkohol.”
Lalu pemuda itu, “Waduh, celaka, kalau gitu.”
Romonya merasa kasihan karena terlalu kasar lalu meminta maaf. ”Maaf saya terlau kasar menjawab anda, sudah berapa lama anda menderita Atrisis?”
Jawabnya, “Bukan saya kok romo, saya membaca dikoran ini bapak Uskup yang Atrisis.) Ger… …
Saudara-saudara saya mau mengatakan apa? Kalau kita sudah tidak senang kepada orang tertentu cenderung hanya mengadili dan mengatakan yang jelek apapun yang dilakukan oleh orang lain. Maka di dalam penderitaan seperti itu sebetulnya kalau kita memahmi seperti itu pertobatan adalah memberi suatu penilaian baru, cara pandang baru, tidak mudah. Tetapi dengan begitu berarti bukan hanya orang itu kita beri kesempatan untuk berubah tetapi buat diri kita menyesal dan mengubah cara melihat orang lain, sehingga penderitaan bukan hanya disampaikan, ditumpahkan kepada orang lain, tetapi mengajak kita untuk mengubah diri kita.
Dan yang ketiga penderitaan dianggap sebagai jalan untuk mengantar kekehidupan abadi. Berarti dengan demkian penderitaan di lihat sebagai pendidikan. Maka disini lalu mengajak kita apa? Pengalaman otentik orang beriman, percaya kepada Tuhan bukan untuk mencari penjelasan tentang penderitaan atau kejahatan, tetapi pengalaman yang otentik mau menemukan di dalam Tuhan sumber perlawanan terhadap penderitaan dan kejahatan. Yang ketiga ini adalah cara pandang Kristiani karena apa? Melihat penderitaan bukan kebelakang, bukan menyalahkan tetapi di dalam penderitaan kita diundang untuk mengatasinya. Kita diundang untuk mencari jawaban perlawanan terhadap penderitaan dan kejahatan itu. Dengan demikian penderitaan dilihat sebagi permunian cinta, dan ini secara bagus dilukiskan dalam akhir kisah Ayub, dalam kitab Ayub. Ayub mengatakan kepada Tuhan, aku tahu bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu yang tidak ada rencanaMu yang gagal hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Jadi penderitaan itu membuat Ayub bisa memandang wajah Tuhan. Penderitaan itu mengantar Ayub tidak lagi menyalahkan orang lain, tidak lagi protes pada Tuhan, tetapi memandang Tuhan sendiri sebagai pengalaman pribadi. Lalu disinilah sebetulnya yang disebut penderitaan bagi umat Kristiani, saya harus mengahadapinya, saya harus mencari jalan pemecahannya. Saya diundang untuk tegar karena Tuhan bersama sama dengan saya. Jadi iman bukan imajinasi, iman bukan hanya pikiran tetapi melakukan sesuatu.
Ada kisah seorang pemuda yang baru saja di rekrut. Setelah dua bulan dia dipanggil oleh menejer personalianya dan dimarahi oleh menejer personalianya. ”Ketika kamu melamar pekerjaan ini dulu, kamu mengatakan bahwa kamu lancar bahasa inggris, tetapi saya amati selama dua bulan satu patah katapun bahasa inggris tidak pernah keluar dari mulutmu. Ada tamu dari luar negeri yang berbahasa inggris kamu malah bersembunyi tidak berani, saya tidak pernah melihat bahkan membaca bahasa inggrispun tidak bisa. Coba katakan kok bisa-bisanya kamu dulu mengatakan kamu lancar berbahasa Inggris?”
Pemuda itu dengan tenang menjawab, ”Loh dalam iklan yang dipasang perusahaan ini katanya mencari orang muda yang penuh imajinasi, nah lancar berbahasa Inggris itu hasil imajinasi saya.” gerr....
Saudara-saudara saya mau mengatakan apa? Iman bukan hanya Imajinasi, iman bukan hanya pikiran iman adalah melakukan sesuatu, iman adalah mencari pemecahan yang memperhatikan orang yang membutuhkan dan iman tumbuh dari apa yang dilakukan bukan apa yang dipikirkan.
Yang terakhir ke empat, penderitaan merupakan misteri. Maksudnya apa, dibalik kejahatan, dibalik penderitaan Tuhan tahu apa yang baik manusia. Meskipun masih menjadi misteri karena pengetahuan manusia terbatas. Maka undangannya adalah mengatasi dan berusaha melawan penderitaan itu. Contohnya apa, contoh yang menarik dalam perjanjian lama adalah bagaimana Yusup itu dijual oleh saudara-saudaranya ke Mesir. Bagaimana kejahatan saudara-saudara ini akhirnya ketika ada bahaya kelaparan karena mereka kena bencana kelaparan, akhirnya mereka mengungsi ke Mesir dan Yusuf yang dijual inilah yang akhirnya menolong mereka. Penderitaan menjadi alat, bagaimana Tuhan ingin memberikan kebaikannya.
Lalu pertanyaannya, jika semua orang berdosa sehingga harus menanggung kematian mengapa ada yang cepat mati, mengapa ada yang lama matinya? Jawabnya adalah perumpamaan tentang pohon Ara. Tuhan memberi kesempatan supaya kita bertobat. Dan ini adalah undangan kita untuk bertobat untuk membantu orang lain. Tetapi membantu orang lain jangan mencari keuntungan. Sering-sering kita membantu orang lain tapi, yang dipikirkan dirinya sendiri.
Ada cerita orang kaya sore-sore jalan dengan dengan mobilnya bersama sopirnya di pedesaan melihat ada dua orang yang sedang makan rumput pada heran-heran, mbok coba minggir saya tak tanya. Minggir dan tanya, ’Pak kenapa kok makan rumput ?’
”Oh tuan kami tidak punya uang tidak bisa untuk beli makanan.”
”Oh kalau begitu ikut saya, ikut saya... lalu disuruh naik.”
”Pak tapi kalau punya isteri dan anak dua?
”Diajak saja, sana diajak saja...,”
”Oh ya.”
Dan yang satunya, ”Satunya ikut saja, ikut sekalian. ”
”Saya punya isteri dan tiga anak.”
”Diajak saja. Diajak...”
Semuanya akan diajak, diangkut, wah begitu baiknya ada satu yang terharu,
”Pak terimakasih, bapak menolong kami dalam kesulitan tentu bapak akan mendapat berkah dari Tuhan, terimakasih.” dengan meneteskan air mata.
Bapak itu menjawab, ”O.... anda salah sangka, anda saya ajak itu karena dikebun saya itu rumputnya tinggi-tinggi.” Gerrr...
Saudara-saudara saya mau mengatakan apa? Kalau menolong itu jangan setengah-setengah. Menolong hanya untuk keuntungan sendiri bukannya orangnya supaya tertolong tapi malah mikir hanya untuk dirinya sendiri. Maka pertobatan menjadi konkret ukuran menolong bukan supaya dirinya senang, tapi apakah orang lain sungguh terbantu. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar