Kamis, 14 Januari 2010

Kotbah Romo YB. Heru Prakosa, SJ

“Bahagia Dalam Persekutuan Para Kudus.”
Ekaristi Tgl 1 November 2009
Injil Matius 5 : 1 -12a

Ibu-bapak dan saudari-saudara yang terkasih selamat sore. Dari sekian ibu-bapak yang hadir disini saya yakin sebagian besar memiliki tambahan nama disamping nama-nama asli pemberian orang tua ketika lahir. Dan saya yakin nama-nama itu dipakai dikenakan bukan sekedar untuk gaya-gayaan mungkin malu dengan nama asli pemberian orang tua. Lalu minta dipanggil dengan nama baru itu nama yang sedikit kebarat-baratan supaya kelihatan modis atau trendy. Nama-nama itu kita tahu diambil dari nama-nama Santo-Santa Para Kudus. Dan hari ini Gereja mengajak kita merenungkan tema umum Bahagia dalam Persekutuan Para Kudus.
Gambar ilustrasi yang kita jumpai di halaman muka warta iman kita juga mendukung kepada tema itu. Dan jelas tema itu dipilih karena pada hari ini tanggal 1 November Gereja mengajak kita untuk merayakan semua orang kudus. Dan nanti tanggal 5 November adalah juga peringatan orang Kudus yang berasal dari Serikat Yesus.
Kita kenal ada banyak Santo-Santa beberapa yang akan kita kenang dalam bulan November misalnya tanggal 4 nanti Santo Carolus Boromeus. Lalu juga Santo Martinus atau Santo Stanislauskotska. Ada yang barang kali kurang dikenal ada yang namanya Santo Yosef Pignateli atau Santo Yohanes Berhmans. Dan diakhir bulan November Andreas Rasul dan kita barangkali juga masih ingat di awal bulan ini Paus baru saja memperoklamirkan beberapa Santo-Santa baru salah seorang diantaranya adalah Damian. Seorang yang membaktikan hidupnya di dalam tugas dan karya kerasulan di tengah orang yang menyandang sakit kusta di sebuah Pulau di Molokai.
Perayaan para Kudus bagi saya menjadi sebuah perayaan akan kebanggan Gereja atas anggota-anggotanya. Kebanggaan akan teladan baik yang telah dilakukan. Kalau nanti tanggal 10 November kita sebagai rakyat Indonesia akan bersama-sama memperingati hari pahlawan, pahlawan bangsa maka kiranya tanggal 1 ini dan nanti tanggal 5 juga kita bisa mengatakan kita akan mengenang para pahlawan Gereja.
Seorang penyair Perancis mengatakan; perayaan orang kudus adalah juga untuk menandai akan keabadian mereka. Tidak ada yang lebih hidup dari pada orang kudus yang telah mati. Maka akhirnya perayaan orang kudus menjadi kesempatan bagi kita untuk memperkokoh kesatuan antara anggota Gereja. Kesatuan antara mereka yang telah meninggal dunia yang sebagian mendapat pe-ngakuan kekudusan dari Gereja, sebagian menerima kerahiman ilahi dan kita semua yang masih hidup yang masih mengembara di dunia ini. Pertanyaannya lalu bagaimana sikap kita terhadap para kudus itu?
Di satu pihak kita tahu para kudus dapat berperan sebagai penolong dan pelindung kita dan karena itu wajar juga kalau kita terkadang minta bantuan memohon rahmat melalui mereka bagi kita. Santo Antonius dari Padua pelindung Gereja Katolik Kotabaru patungnya ada di belakang sering kita mintai tolong untuk mencarikan sesuatu yang hilang, sesuatu yang harus tidak dipahami sebagai materi atau benda. Kehilangan juga dapat karena kehilangan harapan kehilangan kepercayaan.
Dilain pihak para kudus juga dapat menjadi teladan, hidupnya dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk terus mebaharui diri terus-menerus dan itu bukan tanpa kenyataan kita masih ingat misalnya cerita tentang Ignatius dari Loyola, yang mengalami pertobatan setelah dia berkenalan membaca dari kisah para kudus yang hidup di jamannya.
Saudari-saudara yang terkasih bagaimanapun kita perlu ingat bahwa para kudus tetaplah manusia. Mereka adalah mahluk terbatas yang memiliki kekurangan dan kelemahan. Maka kalau kita mengadakan penghormatan kepada para kudus pendasarannya bukan pertama-tama karena kesempurnaan hidup mereka tetapi karena upaya mereka yang tanpa lelah, karena jatuh bangun mereka yang mau mengejar kekudusan. Mereka yang terus berusaha meminjam istilah bacaan injil yang kita dengar tadi yang mau terus bersikap miskin merasa bergantung kepada Allah. Atau mereka yang terus mengupayakan perdamaian, mereka yang bersikap lemah lembut penuh kepedulian kepada orang lain. Mereka yang lapar dan haus akan kebenaran. Mereka yang murah hati dan berani menanggung resiko bahkan kalau harus merelakan nyawa. Demi kebenaran itu.
Dalam sikap semacam ini kita disadarkan bahwa penghormatan kepada para orang kudus tidak boleh menggeser peran Yesus sendiri. Yesus pernah berkata menurut Santo Yohanes, “Diluar Aku kamu tak dapat berbuat apa-apa.”
Dan memang sangat mungkin dapat melakukannya karena peran Yesus, karena rahmat Allah yang bekerja melalui Kristus di dalam diri mereka. Penghormatan kepada para kudus akhirnya menjadi pengakuan akan rahmat Allah, akan asal – usul kekudusan itu sendiri yang mahakudus ialah Allah sendiri. Maka bersama para kudus dihadapan Allah kita melakukan seperti yang kita dengar dalam kitab Wahyu tadi. Kita bersyukur kita memuji, karena kebesaran, karena karya dan campur tangan Allah, rahmat yang memungkinkan para kudus dan kita semua hidup sebagaimana yang dikehendaki Kristus.
Saudari-saudara yang terkasih saya pernah tinggal di sebuah asrama mahasiswa sebagaian besar adalah Imam, mereka berasal dari berbagai bangsa. Dan suatu saat pembicaran di meja makan itu tentang santo-santa. Saat itu ada santo baru yang baru saja diangkat dan seorang teman yang memiliki kebangsaan sama dengan Santo baru yang baru saja diangkat itu bertanya kepada saya demikian.
“Heru apakah ada Santo-Santo Asli dari Indonesia?”
Lalu dengan tegas saya menjawab; “Tidak ada.”
Dia menanggapi; “O..ya saya lupa kamu bukan dari negara Kristiani maka tentu tidak ada orang kudus.”
Lalu saya menimpali; “Memang tidak ada santo-santa dari Indonesia tetapi kalau orang kudus kami punya banyak sekali.”
Saudari-saudara terkasih, saya yakin ada sebagian dari saudari-saudara kita yang sudah meninggal yang kekudusannya diakui, mendapat materai, meminjam bahasa dari bacaan pertama tadi pengakuan dari Gereja dan itu yang kita sebut dengan Santo-Santa, Beato atau Beata. Tetapi saya yakin ada juga saudari-saudara kita yang kekudusannya belum mendapat pengakuan bahkan mungkin tidak dikenal secara kudus. Kalau saya menghormati pada hari ini semua orang kudus maka saya memasukkan semua mereka itu.
Di belakang gereja ini ada rumah besar Kolose St. Ignatius tempat di mana para Romo, Bruder dan para Frater Serikat Yesus yang sedang belajar Teologi tunggal. Dan kalau ibu bapak masuk lewat bagian depan ibu bapak akan menjumpai sebuah gambar di dinding, ikon gambar tentang para kudus di abad ke 20 tadi sudah dimuat di tayangkan. Apa yang menarik adalah yang di bagian bawah di pojok bawah ada sesorang dilukis disana, yang dibawah ancaman laras senapan dia pakai baju biru, dia itu adalah romo Tarsisius Dewanto orang Magelang yang meninggal terbunuh beberapa tahun yang lalu di Timor-timur. Romo Tarsisius Dewanto tidak disebut santo tapi bagi saya keberaniannya, tindakannya yang sampai merelakan nyawanya untuk melakukan seperti yang dikatakan dalam injil tadi melakukan sesuatu demi kebenaran bagi saya tindakannya dapat digolongkan sebagai kudus. Dan menurut saya kekudusan tidak harus ditempuh dengan kemartiran. Kalau saya mengenang tindakan-tindakan baik yang dilakukan oleh romo Mangunwijaya misalnya saya tidak akan ragu, mengatakan bahwa tindakan-tindakannya merupakan keteladanan kekudusan. Bahkan saya juga yakin tidak hanya para imam atau biarawan-biarawati, tidak sedikit dari kaum awam yang barangkali tidak di kenal tetapi tindakan-tindakan mereka mencerminkan kekudusan dan dapat kita jadikan teladan di dalam hidup beriman kita.
Saudari-saudara yang terkasih Gereja adalah umat Allah satu keluarga di dalam Kristus, kita semua diundang untuk mengejar dan mencapai kekudusan yang sebagaimana yang diharapkan Kristus. Marilah kita mohon rahmat agar semuanya itu semakin mampu kita wujudkan dalam hidup keseharian kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar