Rabu, 04 Maret 2009

Kotbah Romo Martin Suhartono, SJ

Romo Martin Suhartono, SJ
” Mengkuti Kristus Sepenuh Hati”
Ekaristi Tgl 25 Januari 2009
Injil Markus 1 : 14- 20

Saudari-saudara terkasih saya belum ganti nama disitu tertulis Romo Siprianus Kuntoro Adi, sayang anda misa jam 16.30 sore hari ini sehingga ketemu saya, kalau anda misa pagi atau kemarin sore tentu akan berbahagia mendengarkan kotbah Romo Kuntoro Adi.
Saudari-saudara terkasih anda coba buka halaman 17 di sana diumumkan bahwa Ekaristi pada bulan mendatang pada bulan Februari adalah dengan tema Santo Paulus. Kita tentu tahu bahwa tema ini diangkat dalam perayaan Ekaristi karena memang tahun St. Paulus ini ditetapkan mulai dari bulan Juni tahun lalu sampai nanti bulan Juni tahun ini, oleh Paus kita Paus Benediktus ke XVI. Ini dalam rangka memperingati 2000 tahun yang lalu kelahiran St. Paulus. Silahkan anda baca nanti halaman 18. Ucapan St. Paulus Benediktus ke XVI yang menenkankan betapa pentingnya kehadiran lagi rasul-rasul baru ditengah-tengah kita sebagaimana dulu St. Paulus juga hadir di dalam Gereja Perdana.
Saudari-saudara terkasih maka minggu-minggu mendatang pada bulan Februari ada tema St. Paulus mulai dari St. Paulus hamba Tuhan, St. Paulus hamba semua orang, St. Paulus peneladan Yesus dan St. Paulus pewarta setia Yesus. Itulah tema-tema yang diambil khususnya dari bacaan pertama yang memang diambil dari surat-surat St. Paulus dan anda juga mendengar tadi bagaimana dalam bacaan pertama itu kita dengarkan sudah ucapan St. Paulus kepada umat di Korintus. Tentunya bagi mereka yang punya isteri akan bergembira sekali karena dikatakan di sini,
”Mereka yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri.” Banyak orang itu berkata demikian juga, ”Oh ya betul itu, saya sudah menikah tapi kalau keluar rumah cincin kawin saya lepas. Saya masukkan dompet, supaya dikira masih bebas, begitu ya. Masih singel.” Apakah memang itu yang dimaksudkan oleh St. Paulus? Tentunya tidak. Kalau kita hanya berpegang pada satu kalimat itu, ya bisa juga gandengannya mereka yang sudah bersuami bertingkah atau berlaku seakan-akan belum bersuami itu tentunya bukan seperti itu, tetapi anda baca ayat-ayat sesudah itu anda akan mengerti artinya yaitu, orang yang menangis seolah-olah tidak menangis, jadi sebetulnya bersedih tetapi seakan-akan tidak bersedih. Yang bergembira seolah-olah tidak bergembira. Dalam arti sedih ya sedih tapi jangan terlalu sedih, gembira ya gembira, tapi jangan terlalu, sehingga mungkin malah sakit jantung.
Orang yang membeli seolah-olah tidak membeli, ini agak keliru, anda baca, di Kitab Suci, ”Orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki barang yang mereka beli.” Dan inilah sikap yang diharapkan oleh St. Paulus. Bahwa meskipun orang itu memiliki tetapi tidak k├ędanan, tidak lekat kepada harta bendanya.
Punya mobil, punya rumah, punya apa tapi seakan-akan tidak memiliki itu. Sehingga kalau itupun ternyata hilang tidak apa-apa. Ha.. ini banyak ketika saya di Jakarta bulan November banyak orang datang konsultasi mohon doa karena milyaran hilang gara-gara dipertaruhkan di dalam valas dan sebagainya itu. Ya dengan kolapsnya satu bank kemudian semua uang hilang, nah kalau mereka itu punya sikap seperti ini punya lima M, tapi di taruh sebagi valas, tapi seakan-akan tidak punya lima milyar itu ketika lima milyar itu hilang dia tidak apa-apa, tapi yang terjadi mereka justru punya lima M kemudian dipertaruhkan semuanya di dalam valas, padahal penasehat bisnisnya sudah bilang jangan semuanya, jangan serakah, jangan tamak cukup satu M taruh valas, empat M itu gunakan berusaha untuk menabung, tapi tidak 5 M. Dia pikir ini taruh sana untung , wah duh belipat-lipat, cepat untung tapi ternyata malah buntung,
Saudara-saudari terkasih itulah nasib kita bila kita memang berpegang teguh kepada dunia ini seakan-akan dunia inilah tujuan hidup kita. St. Paulus bisa dengan mudah mengatakan, ”Dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.”
Saudari-saudara terkasih, mungkin itu perlu sikap St. Paulus kita renungkan juga. Seumur hidupnya dia senantiasa dipenuhi oleh semangat, semangat untuk Tuhan. Ketika dia masih seorang Yahudi yang fanatik, dia mengira seperti orang Yahudi kebanyakan, orang yang mati disalib itu, tergantung di atas kayu seturut Hukum Taurat adalah orang yang terkutuk, maka ia amat benci kepada pengikut Kristus yang malah memperTuhankan orang-orang yang terkutuk ini, maka dia menjadi penganiaya Jemaat. Saat itu berbekalkan surat perintah Imam Agung, ia pergi ke kota Damsyik, kota Damaskus untuk menangkap orang-orang Kristiani, tapi apa yang terjadi, alih-alih menangkap orang Kristiani dalam suratnya berikut ia akan mengatakan bahwa ia saat itu malah ditangkap oleh Kristus, anda ingat ceritanya, mungkin silahkan baca, kisah Para Rasul bab 9 bagaimana ia sedang berjalan ke sana tiba-tiba saja ada sinar dari atas yang membutakan matanya, dia jatuh dan kemudian dia mendapatkan penampakan Kristus yang bangkit kemudian dia bertanya, ”Siapakah Engkau?” Dan Yesus menjawab, ”Akulah Yesus yang kau aniaya itu.” ”Saul-saul mengapa engkau menganiaya Aku.” Dan dia bertanya siapakah engkau, Akulah Yesus yang engkau aniaya itu.
Dan kemudian dia buta selama tiga hari, ia masuk ke kota Damsyik dan baru disembuhkan ketika Ananias salah seorang murid Kristus, juga meletakkan tangan atas kepalanya dan berdoa. Dan saat itu juga diwahyukan kepada Paulus apa yang harus dilakukannya. Dari musuh Kristus, ia berbalik menjadi pengikut Kristus yang amat handal bahkan ia menjadi pewarta Kristus.
Anda silahkan lihat kalau kitab Suci perjanjian baru, kita itu terdiri dari berapa kitab? 50,40,30,20 dari 27 itu ada kitab-kitab Injil lalu Kisah Para Rasul dan surat-surat para rasul dan kemudian Kitab Wahyu. Dari 27 teks itu bayangkan tiga belas ditulis oleh St. Paulus yaitu surat-surat St. Paulus, maka pengaruh Paulus bagi iman kita tentu besar sekali. Dari musuh Kristus ia berbalik menjadi pengikut Kristus dan lihat anda buka 1 Korintus bab 4 dia berkata demikian, ” Dalam tugasnya sebagai pewarta Injil ia mengalami seperti ini, ”Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara. Kami melakukan pekerjaan tangan yang berat, kalau kami dimaki kami memberkati, kalau kami dianiaya, kami sabar, kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah, kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai saat ini”
Saudari-saudara terkasih itu pengalaman St. Paulus dan bahkan ia pun bisa berkata demikian, pada suratnya yang kedua pada umat di Korintus, dia berkata demikian, ”Apakah orang-orang lain itu pelayan Kristus, aku berkata seperti orang gila aku lebih lagi, aku lebih banyak berjerih lelah, sering dalam penjara, didera di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut, lima kali aku disesah orang Yahudi, (artinya dicambuki), setiap kali empat pulu kurang satu pukulan. (Dicambuki dia masih menghitung berapa kali dicambuki, empat puluh kurang satu), tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal. Sehari semalam terkatung-katung di tengah-tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir, dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi, dan dari pihak-pihak bukan Yahudi, bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat, kerap kali aku tidak tidur, aku lapar, dahaga, kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan tidak menyebut hal-hal lain lagi. Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.”
Bagaimana mungkin Paulus yang tadinya musuh Kristus, itu berubah rela berkorban, mengikuti Kristus sepenuh hati sampai rela mengalami semua itu. Kita patut bertanya apa yang menyebabkan itu semua.
Apa? Ia rela melakukan semua itu apa sebabnya? Rela kebanjiran, bahaya penyamun dan sebagainya, jawabannya hanya satu karena apa? Ada yang mau berteriak menjawab? Silahkan buka surat Paulus kepada umat di Roma, itu dengan mudah dia menjawab, ”Bahwa dalam segala hal itu dia lebih dari pada seorang yang menang karena dia yang mengasihi Paulus sendiri, yaitu karena Kristus, pada Bab 8 dia berani mengatakan demikian,
”Siapa yang akan memisahkan kita dari kasih Krsitus, penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya atau pedang, dia mengatakan demikian.” dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita, sebab aku yakin baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah atau kuasa-kuasa, tidak akan memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus Tuhan kita, itulah Saudari-Saudara terkasih karena cinta Kristus ia rela menderita, semua itu demi menyebarkan Kristus, kalau kita mungkin paling-paling bisa bicara, ”Sudah hujan, becek nggak ada ojek, karena kita dipengarui Cinta Laura, buka cinta Kristus, sebetulnya cinta Kristus telah membangkitkan Paulus, entah hujan, entah becek dan sebagainya, nggak ada ojek tapi dia tetap mewartakan Kristus, itulah jawaban Paulus, dan ia menghayati itu sampai akhir hidupnya. Dia tadi sudah seakan-akan meramalkan nasibnya ketika berkata tidak ada yang dapat memisahkan dia bahkan pedang sekalipun tidak dapat memisahkan dia. Dan memang pada akhir hidupnya, St. Paulus ini, St. Paulus mati oleh pedang. Dia ditangkap, ditahan, dipenjara, selama dua tahun, kurang lebih di Roma, dan selama dalam penjara itu dia masih mewartakan Kristus sehingga prajurit pegawai-pegawai istana kekaisaran juga bertobat menjadi pengikut, Kristus.
Ia kemudian dibunuh, diseret ke sebuah bukit di Roma pinggir kota ada sebuah bukit yang namanya Trefontane, itu tiga mata air di sanalah Paulus dipenggal kepalanya, dan menurut tradisi ketika kepala Paulus itu terlepas dari tubuhnya, jatuh ke tanah menimpa tanah tiga kali, gelundung begitu, .. nah tiga kali menyentuh tanah itu, muncullah mata air Trefontane tiga mata air, Paulus itu jangan anda bayangkan seperti Arnold Swhasheneger dan sebagainya, tidak. Pulus itu menurut tradisi badannya kecil, kurus, kepalanya botak besar, tapi tidak pakai kacamata, bukan itu ya... Matanya tajam seperti elang, hidunganya agak seperti paruh betet seperti orang Yahudi, tapi kesaksian itu mengatakan bahwa, sorot wajahnya seperti wajah Malaikat, cakep juga tidak, jelek juga tidak. Tapi sorot wajahnya dikuasai oleh kasih Kristus yang membakar dia. Maka saudari-saudara terkasih baiklah anda, sekali-sekali di rumah baca kembali teks-teks St. Paulus itu agar kasih Kristus yang membakar dia juga membakar kita semua Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar