Kotbah Romo Yosephus I. Iswarahadi, SJ

”Komunikasi yang Menguatkan.” Ekaristi Tgl. 16 Mei 2010 Injil Yoh 17 : 20 - 26 Tadi menjelang misa ini telah kami putarkan sebuah video Klip...

Rabu, 04 Maret 2009

Kotbah Frater Paulus Bambang, SJ

Frater Pulus Bambang Irawan, SJ
” Mencari dan menemukan Kristus”
Ekaristi Tgl 17 Januari 2009
Injil Yohanes 1 : 35 – 42

Seorang Katolik yang baru saja dibaptis, dan dia berteman dengan seorang yang tidak percaya akan adanya Allah, seorang ateis. Maka dia bertanya; ”Kamu percaya bahwa Allah itu benar-benar ada?”
Orang katolik mengatakan, ”Ya saya percaya.”
”Coba kalau kamu benar percaya jawablah tiga pertanyaan saya ini.”
”Kalau Allah itu benar-benar ada, bagaimana mungkin Dia menciptakan alam, semesta ini hanya dalam enam hari. Sedangkan anak SMA pun tahu kalau alam semesta ini diciptakan berjuta-juta tahun lamannya, bagaimana?”
Orang katolik itu diam, dan dia menjawab menjawab, ”Nggak tahu.”. Dia senang si ateis ini. Kemudian bertanya dengan pertanyaan yang kedua.
“Kamu percaya bahwa Yesus itu sungguh-sungguh penebus?”
“Ya saya percaya.”
“Kalau Yesus itu sungguh-sungguh penebus, menebus dosa dunia ini, lalu kenapa masih ada banyak penderitaan. Masih ada begitu banyak kamalangan, lalu apa pekerjaan Yesus Penebusmu itu?”
Orang katolik itu diam lagi. “Aku nggak tahu?” Semakin seneng si ateis ini. Dan dia menyiapkan pertanyaan ketiga.
”Kamu percaya kalau Maria itu perawan seumur hidup?
”Ya aku percaya.”
”Kamu itu kan ndak bodoh? Masak ada seorang wanita yang sudah melahirkan masih perawan, bagaimana kamu jelaskan?”
Dan orang katolik itu diam. Dan akhirnya menjawab, “Aku tidak tahu”.
”Lha kalau kamu tidak bisa menjawab tiga pertanyaanku tadi lalu kenapa kamu mau dibaptis dan percaya kepada Allah, Kepada Kristus Sang penebus itu, kepada Bunda Maria?”
Mau tahu jawaban orang Katolik ini, di mengatakan demikian;
”Dulu aku ini pemabuk, aku ini nggak punya harapan, aku dibenci oleh isteri dan anakku. Namun sekarang aku memiliki hidup aku tidak lagi minum. Hidupku berubah, itulah sebabnya mengapa aku percaya kepada Allah.”
Saudara terkasih, cerita ini sebenarnya menggambarkan pergulatan yang dialami oleh orang jaman sekarang untuk percaya. bagaimana kita bisa percaya di jaman yang mengedepankan rasionalitas, sesuatu dianggap benar kalau sungguh-sungguh masuk akal. Rasional di mengerti. Kalau tidak rasional tidak bisa dimengerti itu maka itu salah. Dan yang menarik dari orang katolik yang baru dibaptis ini adalah, dia tidak mencoba menjelaskan seluruh rahasia alam semesta namun dia mencoba menjelaskan rahasia hidupnya sendiri. Kenapa aku percaya karena aku disentuh oleh Tuhan. Bukan karena saya tahu segalanya tentang alam semesta ini, tidak. Namun karena Tuhan menyentuh hidupku maka mengobarkan kepercayaanku.
Yang menarik dari orang Katolik ini adalah dalam cerita ini. Ia merasa berjumpa dengan Allah. Aku bertemu dengan Allah, hati ke hati. Dan itulah yang mengubah hidupku. Yang memberikan pengharapan yang membuat aku berhenti minum. Yang membuat aku menjadi orang yang bisa dicintai lagi oleh isteri dan anak-anakku. Mungkin dia itu tidak kenal, teori Big bang. Tokoh fisikawan Stephen Hawkim yang katanya dunia ini tercipta oleh satu ledakan besar di jaman juta tahun yang lalu. Dia juga tidak tahu tentang teolog-teolog besar yang membuat buku setebal ini tentang Kristus, tentang salib, tentang penebusan. Mungkin dia juga dulu tidak pernah ketemu Romo Tom Jakobs untuk bertanya apakah Bunda kita ini sungguh perawan.
Dia nggak tahu tapi ada satu yang ia ketahui, bahwa Allah menyentuh hidupnya. Ia berjumpa dengan Allah. Dan itulah yang memberikan harapan itulah yang mengubah, itulah yang memberikan kemantapan.
Saudara terkasih, Injil yang kita baca hari ini dari St. Yohanes juga bercerita hal yang sama. Tentang perjumpaan pribadi dengan Yesus. Dan perjumpaan pribadi ini yang mem-berikan perubahan, memberikan keman-tapan terjadi transformasi. Kita buka pada halaman 6. diceriterakan bahwa ada dua orang murid Yohanes. Ketika melihat Yesus, Yohanes mengatakan; ”Lihatlah Anak Domba Allah.” Dan murid-murid Yohanes kemudian mengikuti Yesus. Apakah dia tahu apa artinya ”Anak domba Allah itu”. Mungkin sebagai orang Israel tahu, bahwa Anak Domba adalah lambang syukur atas Paskah tapi ini manusia. Maka dia ketika melihat Yesus dia mengatakan Guru, dia masih menyebut Yesus sebagai Guru. Seperti halnya orang-orang pada waktu itu banyak sekali orang yang bijaksana dan Yesus pun seperti mereka. Yesus adalah guru. Yesus bertanya, ”Apa yang kamu cari?” Para murid itu mengatakan, di manakah Engkau tinggal. Mereka ingin kenal dengan Yesus secara pribadi. Dan Yesus mengatakan, ”Marilah dan kamu akan melihatlah.” Sebenarnya kata yang tepat adalah. ”Datang dan lihatlah.” Yesus mengatakan kalau kamu ingin mengenal Aku datanglah dan lihatlah.” Maka mereka menghabiskan sore itu bersama dengan Yesus. Terjadi perjumpaan hati ke temu hati.
Dan apa yang terjadi, Bapak – Ibu Saudara sekalian. Ada suatu perubahan yang sangat dahsyat, si Andreas kemudian memanggil saudaranya Simon. Warta gembira yang ia dapat perjumpaan pribadi dengan Yesus itu ia tularkan dengan saudaranya. Dan lagi dia tidak lagi menyebut Yesus sebagai guru, tetapi sebagai Mesias. Ia yang diurapi, Ia yang dijanjikan bagi Israel yang memberikan harapan. Ada perubahan di sini. Dari guru, perjumpaan yang biasa akhirnya menemukan bahwa Yesuslah Mesias. Yang diharapkan yang memberikan peneguhan bagi Israel dan proses ini menjadi mungkin karena satu pertanyaan dasar dari Yesus, ”Apa yang kamu cari?”
Kita boleh bersyukur bahwa Allah yang kita imani bukanlah Allah yang diam. Bukanlah Allah yang tinggal di awan-awan sana. Tapi Allah yang bertanya, menegur anda, menunjuk apa yang kamu cari. Dan mengundang untuk berjumpa dari hati ke hati. Allah yang menyapa, seperti dikatakan pada surat dalam Injil St. Yohanes juga pada bab I. Dia mengatakan firman itu telah hadir dan tinggal di antara kita. Allah tinggal dan menyapa kita. Mengajak anda sekalian untuk membuka hati. Berwawan hati, bukalah hatimu yang tertutup itu dan sapalah Allah. Perjumpaan inilah yang akan mengubah seperti cerita tentang seorang Katolik tadi.
Bapak Ibu sekalian, tahun ini adalah tahun Pemuda, dan ada suatu karikatur yang menarik di majalah hidup, pada minggu pertama, dalam karikatur itu dikatakan demikian. “Mudika sama dengan tukang parkir gereja”.
Saya spontan tidak setuju dengan karikatur ini. Bukan karena saya seharusnya jaga parkir, tetapi menurut saya yang utama bukan apakah itu jaga parkir, apakah menjadi lektor, apakah menjadi Patemon, apakah menjadi Prodikaon apakah ikut Ekaristi Kaum Muda EKM. Apa ikut, EKM simbah-simbah, Ekaristi Remaja, ekarsiti macam-macam, yang utama adalah, apakah aku rela bertemu dengan Tuhan. Apakah aku mau berjumpa dengan Tuhan secara pribadi sebagai kaum muda.
Dalam salah satu Seminar Ekaristi yang diadakan majalah rohani pada bulan Desember, ada satu kesaksian yang menarik dari siswi SMA yang mengatakan demikian, ”Aku itu senang ketemu Yesus. Aku senang ke gereja. Lalu bagaimana aku bisa ke gereja dan menikmati kalau suasananya tidak mendukung, kalau tidak memberikan semangat.” Maka marilah kita pada tahun ini Tahun Pemuda ini, bertanya apa yang bisa aku buka dalam diriku agar bisa bertemu dengan Tuhan. Bagaimana supaya aku bisa berjumpa dengan Dia dari hati ke hati. Supaya Ia bisa menyentuh aku, supaya aku bisa berubah, supaya aku bisa merasakan kemantaban, dan itu lebih penting dari pada menjadi tugas menjadi penjaga parkir, menjadi semacam apapun. Itulah yang kita usahakan, itulah yang kita mohon, itulah yang kita cari, yang kita mohon, yang kita harapkan, kepada Yesus.
Sebagai akhir dari homili singkat ini saya pernah mendapat suatu SMS yang menarik dari seorang sahabat, bunyinya demikian, ”Kita kelelahan mencari Allah di langit yang paling tinggi, di samudara yang paling dalam, di lembah yang paling sunyi. Padahal Ia selalu duduk di samping kita.”
Kok saya renungkan benar juga kata teman saya ini. Dan seperti yang dikatakan oleh St. Yohanes pada awal Injilnya, Firman itu tinggal dan ada di dalam dunia tetapi dunia tidak mengenalnya, kenapa? Karena kita sibuk dengan diri kita, kita sibuk dengan seluruh keprihatinan, seluruh penderitaan kita, dan kita lupa untuk membuka diri kepada Allah. Kita sibuk mencari, seakan-akan sudah retret, rekoleksi segala macam saya sudah menemukan Tuhan. Padahal Tuhan duduk di samping dan kalau Tuhan duduk di samping anda, apakah anda akan diam saja. Ataukah anda mau membuka hati bertemu dengan Dia supaya hidup kita dimantapkan dan harapkan kita dikuatkan. Amin.

Kotbah Romo Bernhard Kiezer, SJ

Kotbah Romo Bernhard Kiezer, SJ
” Hidup baru dalam Kristus”
Ekaristi Tgl 11 Januari 2008
Injil Markus 21 : 7 - 11

Ibu-ibu, bapak-bapak, saudari-saudara, Yesus dilahirkan di Betlehem dibesarkan di Nazaret dalam keluarga tukang kayu berumur 30 tahun dibaptis di sungai Yordan. Kisah baptisan ini mengakhiri hari-hari Natal kita. Sebab dengan baptisanNya Yesus masuk medan karyaNya. Membawa kabar gembira kasih yang menular. Dan teks doa kita, mau meneguhkan langkah-langkah kita untuk masuk tahun 2009. Hidup baru dalam Kristus, revitalisasi kata orang. Apakah dari hari-hari Natal kita memang sudah mengangkat suatu energi hati yang baru yang mau menular antara kita? Sekali lagi kita ditemukan dengan Yohanes, Nabi Perintis. Untuk dibaptis bagaikan untuk hidup yang baru revitalisasi, orang datang ke sungai Yordan. Namun Yohanes menunjuk pada lain orang. Sesudah aku datang Ia yang akan membaptis kamu dengan roh, untuk hidup baru. Orang mesti mendapatkan dan mengangkat spirit baru, suatu energi dari hati. Cuma yang datang ke sungai Yordan itu adalah Si Tukang kayu dari Nazaret. Dan seperti banyak orang lain ia pun dibaptis. Dan sementara Yesus membaharui hidupnya, langit terkoyak artinya dari Allah masuklah spirit ke dalam dunia kita. Bukan bagaikan kekuatan gaib sampai Yesus loncat kesurupan. Ada suara yang meneguhkan dan mengutus, ”Engkaulah AnakKu. Engkaulah yang Kukasihi dan siapalagi dapat Kuandalkan agar kasih menular di lingkungan manusia”. Dan memang begitulah lanjutan kisah Yesus. Ternyata Ia punya hati untuk orang kebanyakan yang katanya hidup seperti domba-domba yang tidak punya gembala. Kata-katanya menyentuh sampai orang lumpuh mulai jalan, dan kaya membuka dompet untuk berbagi. Dan waktu hidupNya habis tergantung di salib. Prajuritpun masih menengadahkan pada Dia, ”Sungguh Engkaulah Anak Allah”. Apakah ada energi hati yang tular menular juga sampai hati kita.
Tiga, empat hari sebelum tahun 2009 mulai. Di kendaraan bersama menuju Semarang aku ditempatkan di samping pak Amir. Ternyata orang itu orang Katolik juga. Punya perusahaan kursi rotan dan meubel apalagi yang ia buat di daerah sana. Omong punya omong mengenai putranya yang aktif di gereja pembinaan iman anak-anak, dan mengenai keponakannya yang belajar di Jerman. Dan mengenai adik-adikku di sana. Dan anak-anak dan cucu mereka.
Sampai hp nya berdering di mobil itu. Dan dalam sekejap mata, meletuslah naluri Pak Amir, di tengah-tengah jalan ia mulai mengurus perusahaan. Habislah omong punya omong, di bagian produksi ia pastikan bahwa pesanan kursi rotan sudah siap dikirim ke Singapore, di bagian paking, dia tanya apakah kiriman ke Singapore itu masih dapat masuk ke dalam kontainer yang setengah kosong. Cuma sialnya bagian jahit mengatakan, bahwa kain coklat abu-abu untuk sarung-sarung bantal belum sampai datang juga. Stage manejernya omong punya omong Sekretaris Direksi mendapat jawaban komandonya diberangkatkanlah kini yang tidak boleh ditunda sampai tahun-tahun.
Dan disampingnya, aku sudah lama dilupakan, tetapi dari energinya yang meluap sampai benakku, aku pun ketularan, ketularan sarung bantal. Dan saya mulai ikut menghitung 30 biji warna coklat, lima belas merah tua, dan kurangnya 15 abu-abu coklat. Enam puluh biji aku teriak. Diam katanya itu, aku masih menghitung. Energinya cenderung menular. Dan memang pertama-tama Yesus, yang disapa dan diutus. ”Engkaulah AnakKu, siapa lagi dapat Kuandalkan”. Tetapi setelah Yesus anda, dan aku pun disapa. Rahmat Baptis bukan bagaikan tenaga dalam yang memperbaiki segala kelemahan. Pada waktu aku dibaptis dan anda dibaptis, kita semua disapa. Siapa lagi dapat diandalkan Allah sebagai anakNya. Sebagai penyambung lidahNya, sebagai kaki tanganNya.
Sejak Anak Maria itu dibaptis dan diutus ada bagaikan jaring, jaring untuk mengasihi ada bagaikan gerak, untuk menimba kasih, ada bagaikan gandeng tangan, supaya tak terputus-putus. Energi menular dari hati ke hati.
Upamanya Tahun 2009 katanya Tahun Pemuda. Pedomannya katanya ”Orang muda bersyukur atas hidupnya. Menghargai dan menjaga kehidupan”. Syukur kalau demikian. Dengan keberanian mereka menemukan keistimewaan mereka. Talenta-talenta tumbuh kembangkan dengan membangun kreasi. Dan semboyannya, ”Orang muda menggugah dunia”. Dan memang Gereja kita tertidur kalau orang muda tidak mengangkat energi hati.
Di kota ini, tercatat hampir 130 Universitas Perguruan Tinggi, dan akademi. 10 tahun yang lalu ada perhitungan bahwa kurang lebih empat ratus ribu mahasiswa yang belajar di kota ini. Orang muda semua, angka baru untuk tahun 2009 belum dapat diperoleh. Menurut dugaan Pastor mahasiswa, sepuluh persen dari mereka adalah orang Katolik. Bayangkanlah tiga puluh ribu atau lebih mahasiswa Katolik di kota ini. Kalau saya tidak salah dengar, sebagian besar dari mereka masuk tahun 2009 dengan hati yang loyo. Habis untuk membayar kos mereka 150, 200, 250 ribu. Untuk bulan November belum terbayar, habis belum mendapat duit, krisis. Sementara ini pada mereka tidak lagi ada Variasi umpamannya jajan bersama. Teman-teman di Bunderan Panti Rapih. Suramlah hidup kami, kata Santi dari program S2 minggu yang lalu. Kalau tidak ada energi yang tumbuh dan gairah dari dalam. Dan mungkin Dani dan teman-temannya yang tidak mempunyai kesulitan keuanganpun butuh energi. Habis studi mereka molor, skripsinya ditunda, lebih baik terlibat dalam kampus, sebab pikir mereka kalau besok saya lulus paling banter saya nganggur. Atau diterima sebagai tenaga tetap dengan gaji 600, atau 800 ribu. Seperti tidak ada orang yang membutuhkan mereka. Maka tak ada spirit untuk gerak ke depan.
Mahasiswa-mahasiswa kita asyik di paduan suara, kata pak Anton, dosen Fakultas Tehnik Sipil. Alangkah mereka diskusi sedikit mengenai ilmu mereka dan mengenai apa yang bisa mereka bangun kalau lulus dari fakultas ini.
Menurut cacah jiwa gereja Kotabaru tahun 2008, setiap hari Minggu berkumpul di gereja sini 4.200 orang muda kebanyakan dari mereka mahasiswa. Satu kali EKM di sini hari Minggu sore 2.000 orang muda. Bagaimana kalau mereka semua kesurupan mengangkat energi hati yang baru? Bagaimana dapat bangkit energinya andaikata kalau kalian keluar dari sini tidak langsung ke motor tetapi ngrumpi sejenak dan pikir bersama kemanakah membangun pilihan anda, sehingga kalau lulus dapat menghidupinya dengan bangga.
Biarpun harga BBM turun. Beritanya kita hampir habis memakai energi bumi. Yang kita korup dari tanah-tanah kita. Sekarang tidak lebih pinter dan di BBM kita pakai energi kelapa sawit untuk naik motor dan pakai energi Matahari untuk membangkit listrik. Kapan kita belajar untuk mangangkat energi hati, yang mau ditularkan antara kita. Waktu dibaptis kitapun disapa, ”Engkaulah AnakKu siapa lagi Kuandalkan. Engkau Kukasihi, marilah kita mengangkat energi dari hati, yang mau ditularkan dari kita. Marilah kita menghirup nafas iman, sebagaimana digambarkan pada halaman 16 dari teks perayaan Ekaristi. Marilah kita berdiri dan bernyanyi bersama. ...menyanyikan lagu Nafas Iman...
Marilah kita mengakukan Iman kepercayaan kita... Amin.

Kotbah Romo RM Wisnumurti, SJ

Kotbah Romo RM Wisnumurti, SJ
“ Keluarga Berkat atau Kutuk ?”
Ekaristi Tgl 28 Desember 2008
Injil Lukas 2 : 22 – 40

Ibu Bapak, Saudari-Saudara terkasih dalam Tuhan, mengawali renungan saya ini, saya kira masih bisa kalau saya terlebih dulu menyampaikan Selamat Natal kepada anda semua. Dalam Kalender Liturgi dikatakan bahwa hari Minggu pertama sesudah natal dalam masa yang disebut Oktaf Natal jadi selama delapan hari sudah perayaan Gereja biasanya disebut salah satu Oktaf begitu, ditetapkan sebagai pesta keluarga kudus. Hari ini adalah pesta Keluarga Kudus itu. Saya kira setiap orang kristiani tahu apa itu Keluarga Kudus atau siapa yang disebut Keluarga Kudus, dengan mudah orang akan menyebut Maria, Yosef dan kanak-kanak Yesus. Tetapi apakah memang hari ini kita mau merenungkan riwayat hidup keluarga Nazaret itu. Mungkin tidak sepenuhnya demikian, kiranya Gereja punya tujuan dan maksud dengan perayaan Pesta Keluarga Kudus hari ini.
Pesta ini sendiri sebetulnya baru mulai dirayakan secara umum di seluruh Gereja pada tahun 1921 atas keputusan Paus Benediktus ke XIV. Paus kita sekarang ini kan Bendiktus juga kan? Yang keberapa sih? XVI jadi saya kira semua tahu, tidak salah.
Nah kalau hari ini sesuai juga dengan bacaan yang bicara mengenai Keluarga Kudus, Gereja ingin mengajak kita dan itulah tujuan dari pesta ini. Mendorong penghayatan semangat Kristiani di dalam keluarga-keluarga Katolik. Lalu ditampilkan keluarga Nasaret itu sebagai teladan bagi keluarga-keluarga orang beriman. Walaupun sebetulnya umat sendiri sudah cukup lama merayakan Keluarga Kudus itu bahkan sudah jauh sebelum penetapan resmi tadi. Sejak tahun 1630. Hanya saja mula-mula fokus perhatian yang diutamakan dipusatkan pada Santo Yosef sebagai teladan para bapak. Karena itu lalu juga muncul banyak perkumpulan bapak-bapak yang bersemangat untuk mengikuti teladan St. Yosef.
Dalam perjalanan selanjutnya Bunda Maria lalu juga ikut disertakan. Tetapi rupa-rupanya bukan hanya Yusuf dan Maria saja, ternyata dalam perjalanan selanjutnya ada keluarga lain yang ditampilkan juga sebagai teladan keluarga beriman yaitu Sakaria dan Elisabeth, tentunya bersama Yohanes Pembaptis anak mereka, atau juga St. Yoakim dan St. Ana tentunya bersama dengan Bunda Maria. Disamping itu tadi di dalam injil juga dua orang lain, yaitu Simeon dan Hanna. Pokoknya mereka semua yang dipandang ikut memperhatikan terlibat dalam mempersiapkan kedatangan kanak-kanak Yesus. Namun sebetulnya yang mau dipestakan terutama adalah para orang tua, terutama para orang tua sebagai pengasuh anak-anak.
Dalam perjalanan selanjutnya ada juga keinginan untuk menampilkan kanak-kanak Yesus sebagai teladan. Cuma kalau dipikir-pikir kalau kanak-kanak Yesus mau dijadikan teladan untuk juga pada kanak-kanak umumnya apa kira-kira yang mau diteladankan? Apakah kanak-kanak Yesus tidak pernah ngompol. Saya kira bayi-bayi juga ngompol kan biasa. Atau mungkin dalam pertumbuhan selanjutnya lain daripada yang lain saya kira tidak juga. Apalagi pada kalimat terakhir dalam Injil hari ini kan dikatakan, “Bayi itu bertambah besar dan menjadi kuat. Penuh hikmat dan cinta kasih Allah ada padanya. Catatannya sangat sedikit. Atau mungkin ada cerita lain yang diceritakan Matius ketika dibawa mengungsi ke Mesir tapi itu juga masih kecil. Atau ketika pada usia 12 tahun mulai diajak untuk ikut merayakan Paskah di Yerusalem, lalu meninggalkan diri di Yerusalem di bait Allah. Tapi saya kira kalau itu yang mau ditampilkan sebagai teladan mungkin malah mem-bingungkan. Kita semua kenal ceritanya, apalagi juga sering didoakan kalau berdoa Rosario salah satu rangkaian peristiwa yang direnungkan kanak-kanak Yesus ditemukan kembali di Bait Allah di Yerusalem. Gitu kan? Yang terjadi di sana sepertinya ketika orang tuanya menemukan kembali, anak ini kok tidak perduli. Ketika ibunya dan bapaknya yang sudah keroyo-keroyo sampai tiga hari tanya sana-sini kebingungan mencari, ketika ketemu tentunya senang. Lalu menegur menanyakan,
“Nak kenapa kamu berbuat demikian kepada kami?” Jawabanya saya kira tidak ada orang tua yang tidak senang jawab seperti itu.
“Ngapain kamu mencari aku. Aku kan mestinya ada di rumah Bapaku”. Apalagi yang dikatakan, maka lalu penginjil hanya mencatat,
“Maria mencatat semua perkataan itu dalam hatinya”. Karena juga tidak dong, tidak tahu. Orang tua juga saya kira juga ndak senang, kalau anaknya yang masih remaja memberi jawaban seakan-akan tidak memperdulikan orang tuanya. Maka memang yang mau ditampilkan sebagai teladan pasti bukan kanak-kanak Yesus itu tadi tetapi contoh hidup orang tuanya. Maka mungkin dengan menampilkan dalam bacaan pertama tadi,
Abraham mulai sebagai contoh yang sangat baik, karena lalu Abraham oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma disebut sebagai Bapa semua orang beriman. Abraham ditampilkan untuk menjadi contoh iman kepercayaannya yang begitu kuat bahkan ketika tidak ada sesuatu pun yang bisa dipakai sebagai pegangan untuk percaya untuk berharap Abaraham tetap percaya. Mungkin pengalaman itu yang sering kali yang justru menjadi pengalaman iman kita sehari-hari. Pengalaman yang konkret yang kita alami.
Kita sering kali tidak mampu menangkap apa sebetulnya yang menjadi kehendak Tuhan. Sudah berusaha ke sana-kesini dalam keadaan sulit mencoba mencari pekerjaan melamar ke sana-sini belum dapat. Tapi ketika melihat lho kok temannya itu kok rasanya kok gamping. Melamar ke sana dapat, melamar ke situ dapet, Tuhan itu nggak adil, mungkin itu seringkali yang menjadi pikiran kita. Tetapi Abraham tetap percaya karena dia yakin bahwa yang memanggil dia, Dia juga yang akan menuntun jalan kehidupannya.
Maka memang yang pertama lalu kita bisa belajar mohon agar kita juga berani berusaha dan mempercayakan diri kepada Tuhan sepenuhnya seperti sikap Abraham itu. Atau juga hal lain yang ingin disampaikan ajakan untuk mencoba mendalami sikap-sikap hidup mereka ini. Terutama Maria dan Yosef bagaimana mereka menunaikan tugas-tugas harian yang sederhana dan biasa tetapi dengan tekun dan penuh kesetiaan. Ini yang sering kali juga tidak mudah untuk diteladani tidak mudah untuk diikuti lebih-lebih di masa sekarang. Bagaimana kita bisa memperoleh hidup yang memadai.
Masa dimana sekarang ini banyak yang mengalami PHK kehilangan pekerjaan maka tentu sulit kalau harus berusaha meneladan contoh yang ditampilkan tadi. Maka kiranya dalam kesempatan ini selain kita mau melihat dan merenungkan kita juga bisa mohon untuk berani belajar sedikit demi sedikit sehingga mampu membangun sikap seperti mereka.
Kalau anda masih menyimpan teks Ekaristi Malam Natal pada bagian terakhir di tampilkan di sana juga dimasukkan di sana pesan Natal bersama PGI dan KWI. Yang diberi judul Hiduplah dalam Perdamaian oleh Semua Orang. Ajakan untuk umat Katolik mau terlibat dalam kehidupan bermasyarakat, di sana juga dikemukakan kutipan-kutipan terutama untuk membangun sikap-sikap hidup sebagai orang Katolik, sikap-sikap hidup yang diharapkan memberi kesaksian. Tapi saya kira sikap-sikap itu hanya bisa terbangun terbentuk kalau sudah dimulai di dalam keluarga. Kalau di dalam keluarga tidak pernah ada usaha untuk menanamkan nilai-nilai itu tadi bagaimana bisa diwujudkan dalam hidup bermasyarakat? Maka tahun 1971 penerbit CLC (cipta loka caraka) salah satu penerbit Katolik pernah mengeluarkan buku kecil yang berjudul Keluarga retak masyarakat rusak. Saya kira itu berdasarkan suatu pengamatan yang sungguh jeli, bahwa masyarakat yang dibangun dari keluarga-keluarga itu, tentu membutuhkan keluarga yang benar, keluarga yang baik yang mempunyai nilai-nilai hidup supaya bisa membangun masyarakat yang benar dan juga masyarakat yang baik.
Tapi kalau pilar-pilar masyarakat tadi sudah tidak baik, maka juga sulit untuk diwujudkan suatu masyarakat yang benar masyarakat yang baik. Saya kira Gereja pun juga merupakan masyarakat yang dibangun dari keluarga–keluarga itu. Maka mau tidak mau tentu juga mulai dari pembiasaan hidup dari apa yang dijalani setiap hari yang kecil-kecil yang sederhana, tetapi kalau dijalani dengan ketekunan dan kesetiaan akan membangun sikap hidup dan nilai hidup yang benar dan yang baik. Maka tentu membutuhkan waktu, membutuhkan proses, membutuhkan usaha, maka bisa menjadi bahan permenungan bagi kita seraya merenungkan keluarga kudus ini, “Bagaimana kita bisa membangun keluarga-keluarga kita menjadi keluarga yang beriman, keluarga yang berani pasrah sepenuhnya kepada Tuhan, apakah misalnya, sekarang ini masih banyak keluarga-keluarga yang mempunyai kebiasaan berdoa bersama, atau “Yo mboh luweh karepmu arep sembahyang apa ora urusanmu”. Kadang-kadang ada orang tua yang saking sibuknya bahkan sendiri juga tidak sempat untuk berdoa. Padahal anak-anak hanya bisa belajar kalau orang tuanya juga melakukan itu. Bukan hanya menyuruh,
“Kamu belum berdoa sekarang berdoa, Tak tunggoni”. Kalau begitu anaknya berdoa karena takut, tetapi kalau orang tua, “Mari kita bersama berdoa”. walaupun barangkali sebelum makan sudah makan cuma mendoakan Bapa Kami Salam Maria, tetapi itu menjadi sesuatu pembiasaan hidup yang dalam bahasa Keuskupan Agung Semarang di tahun-tahun terakhir ini ajakan untuk membangun Habitus Baru. Sikap hidup, bukannya karena baru belum pernah dibuat, tetapi membangun sikap yang benar. Membangun nilai-nilai yang benar atau barangkali juga ada beberapa contoh lain yang bisa kita lihat, bisa kita alami seringkali orang tua mau berusaha mengajak anaknya ke gereja. Tapi sekedar mengajak, tidak mengajarkan juga, tidak mendampingi dan membina; memberi pemahaman sehingga, “Ah, daripada ngganggu di dalam gereja yo wis biar jalan-jalan, lari-lari di luar sana pokoknya tidak menggangu di gereja, tetapi tidak pernah ditanamkan sesuatu diajarkan sesuatu diajak untuk mulai belajar menahan diri, belajar juga memberi perhatian, belajar berdoa, belajar ikut bersama umat yang lain. Sehingga kadang-kadang juga diluar pokoknya ada yang menemani mungkin Baby Sister, mungkin pembantunya, mungkin kakaknya. Lalu seringkali juga orang tua ngalah, karena daripada merengek terus, nangis terus minta balon, minta mainan, minta minum, bahkan juga seringkali orang tuanya pun ah.. mumpung saya di luar minum dulu kan belum menyambut komuni, atau barang kali juga yang beberapa kali terjadi karena orang tua tidak berusaha memberikan pemahaman membiasakan anak mengenal juga dengan benar dan baik, ada yang maju menyambut komuni, lalu ketika orang tuanya mau menyambut Tubuh Kristus, anaknya merengek dan menangis lalu dicuilke, saya kira ini juga bukan pendidikan, bukan pembinaan sikap hidup beriman yang benar dan baik, padahal kadang-kadang orang tua tidak merasa ini hal kecil hal biasa, tapi karena kadang-kadang biasa itu lalu sering kali terlewatkan kurang mendapatkan perhatian maka membangun sikap hidup membangun dan menanamkan nilai yang benar tentu memerlukan juga pembiasaan terus menerus dalam kehidupan sehari-hari, karena itu Ibu dan Bapak sekalian pada pesta Keluarga Kudus ini kita lalu bisa bersama berdoa memohon bukan hanya supaya bisa mencontoh apa yang dibuat oleh Keluarga Kudus, tetapi kita juga bisa belajar sehingga berani mengusahakan membangun sikap menanamkan nilai-nilai hidup Kristiani dalam keluarga-keluarga kita, sehingga sungguh akan terbangun Habitus, sikap hidup beriman yang benar yang berani menyerahkan penyelenggaraan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, karena dilandasi dengan sikap dan nilai-nilai yang benar tadi. Amin.

Kamis, 12 Februari 2009

Kotbah Romo RM. Wisnumurti, SJ

Romo RM. Wisnumurti , SJ
Ekaristi Malam Natal.
25 Desember 2008
Injil Yoh 1 : 1 – 18

Ibu-ibu, bapak-bapak, saudari-saudara yang berbahagia, yang berpesta. Selamat menyambut kelahiran Sang Juru Selamat, sebagaimana diwartakan oleh Para malaekat tadi, “ Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itulah pula pokok yang menjadi arah perhatian kita untuk bersuka cita dan bersyukur menyambut kelahirannya.
Kalau dulu, sering kali dikatakan lahirnya manusia baru itu membawa rejeki dan berkat, tapi itu dulu, sekarang anggapan semacam itu tampakknya kurang laku. Malah beberapa hari yang lalu ada ibu yang mengatakan, “Romo kalau punya banyak anak jaman sekarang itu repot. Karena biaya sekolah mahal. Saya kira itu kenyataan realita yang memang di hadapi jaman sekarang, karena itu lalu orang yang mengatakan bahwa kelahiran manusia baru itu malahan membawa beban, karena berarti tambah jumlah mulut yang harus disuap, mengurangi jatah yang tersedia. Lalu untuk apa kita merayakan Natal, merayakan kelahiran, merayakan kehidupan baru, masihkah perayaan itu punya makna bagi hidup kita.
Memang kalau kita mencermati memperhatikan, merenungkan bacaan-bacaan hari ini, saya kira kita harus mengakui bahwa sepanjang sejarah umat manusia, belum pernah ada orang yang kedatangan-Nya sedemikian diharapkan, sedemikian ditunggu. Bahkan selama berabad-abad lamanya. Orang yang paling terkenal, orang yang paling termasyhurpun tidak pernah ditunggu dan diharap seperti Dia ini.
Kedatangannya sudah diramalkan jauh sebelumnya, sudah dinubatkan secara pasti dan kemudian juga disiapkan dengan sepenuh hati. Bahkan kalau kita ingat, pembawa berita tentang kelahiran-Nyapun bukan sembarangan, yang membawa berita tentang lahir-Nya anak yang ditunggu itu utusan Allah sendiri. Kelahiran-Nya memang bukan kelahiran manusia baru yang biasa, yang seringkali kita alami, kalau ada tetangga, keluarga yang baru saja melahirkan, menambah warganya, paling-paling di beritakan telah lahir dengan selamat, ini tak ada berita tentang keselamatan anak itu. Padahal kelahiran-Nya berkaitan dengan nasib kita. Berkaitan dengan kebahagiaan dan keselamatan kita semua. Yang aneh justru saat Dia lahir, padahal sudah ditunggu, sudah dinantikan, sudah dinubatkan, yang terjadi justru sesuatu yang sangat kontroversial. Dia lahir di tempat yang sama sekali tidak layak untuk ukuran manusia.
Mungkin gambaran yang ada di sebelah saya ini dihadapan anda rasa-rasanya masih lumayan, saya kira disini tidak ada bau tai kambing, tai keledai atau tai sapi. Mungkin malahan oleh panitia sudah di semprot pewangi supaya tidak menggangu orang yang beribadat, dan seperti tadi juga kita dengar dalam Injil, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan ditolak dimana-mana padahal Dia di tunggu, sudah disiapkan berabad-abad lamanya. Lahir ditempat dimana biasa dipakai untuk menampung, atau mungkin meneduhkan hewan peliharaan yang kemalaman, dan tidak ada berita di koran. ”Telah lahir dengan selamat anak kami, kami yang berbahagia Maria dan Joseph, lalu mungkin di KRkan, di Kompaskan, tidak ada! Yang pertama mendengar berita orang-orang yang biasanya di singkirkan dari masyarakatnya, para gembala yang tidak dipandang di masyarakatnya. Cerita ini setiap kali kita dengar bila kita merayakan Natal, dan karena ceritanya juga seakan-akan sesuatu yang kontroversial. Membuat orang lalu juga bertanya, ”Bener apa tidak?
Sehingga ada cerita begini. Ada seorang bapak yang menganggap bahwa cerita Natal itu tahayul saja. Isapan jempol. Bagaimana mungkin Allah kok menjelma. Bapak itu bukan seorang yang tidak berbudi, dia sebetulnya juga orang yang baik. Orang yang tulus, bahkan ia juga setia kepada keluarganya. Dipandangan masyarakatpun namanya bersih bukan termasuk orang yang harus berperkara di peradilan karena korupsi menggelapkan atau karena tertangkap menjual obat-obatan terlarang, nggak. Tetapi dia tidak percaya bahwa Allah menjelma menjadi manusia, apa lagi selalu diceritakan di tempat yang seperti itu. Sungguh ia tidak percaya. Maka memang agak kasihan, isterinya yang berusaha mengajak selalu dia mengatakan, ”Maaf isteriku tersayang, mungkin apa yang saya lakukan ini membuat kamu sedih, tetapi ya lebih baik saya mengatakan apa adanya. Saya tidak dapat mengerti bagaimana Tuhan yang katamu itu begitu Agung kok menjadi manusia, seperti kita-kita. Bagaimana mungkin. Itu sesuatu yang tidak masuk diakal saya.
Maka ketika malam Natal isteri dan anak-anaknya seperti biasa mau menghadiri perayaan Natal mau beribadah, mau mengikuti kebaktian malam Natal di gereja. Suaminya dengan seperti biasa disertai permohonan maaf saya lebih baik tinggal dirumah, menunggu sampai nanti kalian pulang. Lalu kalau kita mau merayakan, kita rayakan bersama-sama di rumah. Isteri dan anak-anak berangkat. Tidak lama kemudian, ternyata salju mulai turun, lalu dia melongok keluar, “Wah saya kira lebih baik menutup pintu dan jendela, lalu dia mulai duduk didepan perapian dan membaca-baca disana sambil mendengarkan lagu-lagu kesuka-annya. Tapi tidak lama kemudian, kedengaran suara diketuk-ketuk.. dipikir ah paling-paling anak-anak yang melempar bola salju. Tapi ketika ketukan itu terdengar lagi, dia mencoba melongok dari jendela, kemudian mengecek ketika dia buka pintu rumahnya dia lihat, beberapa burung rupa-rupanya kedinginan mau berteduh di sana. Karena setelah dibuka, pintunya anginnya cukup kencang. Dia berpikir, wah kasihan mereka kedinginan. Maka ketika mereka mau menyelamatkan diri rupa-rupanya menabrak jendela dipikir jendela itu bisa dilewati. Mereka cari tempat berteduh.
Saya tidak bisa membiarkan mereka kedinginan apalagi kalau sampai mati disini, tetapi bagiamana menolong mereka. Bapak itu mulai berpikir wah dia ingat oh ya.. anak saya punya peliharaan ada kandangnya disana maka lalu dia pergi ke kandang itu dan mencoba mengajak burung-burung itu tadi supaya mau ke sana. Ia memberi makanan, dijatuhkan untuk mengikuti dia, tapi ternyata burung-burung itu tidak mau. Maka dia mencoba untuk mengiring seperti kalau anjing gembala menggiring domba-domba, tapi malah bubar takut semua. Wah bapak itu bingung, bagaimana ya.., lalu dia mulai berpikir... barang kali burung-burung ini menganggap saya mahluk yang aneh dan menakutkan. Seandainya saya beberapa menit saja, bisa menjadi seekor burung mungkin saya lalu bisa mengajak mereka masuk ke tempat yang aman sehingga tidak kedinginan dan diterpa angin.
Sementera dia berpikir bagaimana caranya, terdengar lonceng gereja seperti yang tadi kita dengar lalu lagu Gloria in excelsis Deo, bapak itu tertegun sejenak mendengar bunyi lonceng tadi, dia ingat isteri dan anak-anaknya sedang merayakan Natal di gereja. Lalu dia tiba-tiba jatuh berlutut, lalu dia sambil berbisik tersedu-sedu ”Sekarang saya mengerti, mengapa Engkau mau menjadi manusia seperti kami.” Dia disadarkan bahwa rupa-rupanya usahanya tadi yang tidak dipahami itu juga yang dialami oleh Allah yang mau menyelamatkan manusia yang seringkali tidak dipahami, yang semula dianggap tidak masuk akal bagaimana mungkin Allah mau turun merendahkan diri menjadi seperti manusia yang lain. Padahal justru dari kenyataan itu nampak dengan sangat nyata wujud kasih Allah kepada manusia. Karena kalau kita sering kali menganggap Allah ada di tempat tinggi berarti mestinya Dia yang dicari, manusia yang mesti datang kepada-Nya, seperti setiap kali kita datang beribadat mencari Tuhan, memuja-mujinya ditempat yang tinggi tapi justru malam ini Dia mendatangi kita, Dia turun mencari manusia dan Dia mau hadir tinggal di tengah manusia ciptaan-Nya. Merendahkan diri menjadi salah satu dari manusia. Hal itulah yang membuat manusia kendati tersingkir, kendati dipandang sebelah mata oleh orang lain, masyarakatnya mendapat teman, teman yang senasib dan sepenanggungan. Yang mau datang mau merendahkan diri supaya di tempat yang seperti itu siapapun bisa datang. Siapapun bisa menyapa Dia. Dia yang begitu Agung rela merendahkan diri senasib dengan manusia. Hal itu membuat manusia merasa tidak ditinggalkan di dalam kesulitan penderitaannya. Seperti yang sekarang juga banyak dialami oleh saudara-saudara kita karena kalau Tuhan menjadi manusia berati
Dapat diakses juga melalui Internet:
http://MimbarMingguan.Blogspot.com
http://MimbarHarian.Blogspot.com

Tuhan tinggal ditengah-tengah manusia, berarti Tuhan menyertai manusia, dan kalau Dia sungguh tinggal di tengah manusia maka Dia juga membawakan damai sukacita, seperti juga yang dirasakan oleh para gembala. Karena itu berita kesukaan yang diserukan oleh malaekat semestinya juga kita syukuri, kita sambut dengan sukacita, kita resapkan di dalam hati sanubari kita, dan kalau kita merayakan kelahiran-Nya maka kita juga lalu diajak membangun sikap seperti yang dibuatnya. Seperti yang diteladankan-Nya. Bila kita menjumpai, menemui saudara kita yang tertimpa musibah, yang mengalami kesulitan. Yang mengalami penderitaan, mungkin karena kehilangan pekerjaan akibat resesi ekonomi yang berkepanjangan seperti sekarang karena kehilangan sumber hidup kehilangan tempat tinggal karena digusur menjadi tugas kita untuk mewartakan kabar sukacita ini mereka tidak sendiri, Tuhan datang menemani kita, dan itu berarti membangun kembali kehidupan sehingga kalau kita merayakan kelahiran-Nya maka kita diajak bersama Dia yang kita sambut kelahiran-Nya. Untuk membaharui kehidupan untuk tidak menyerah pada kesulitan tetapi berani menghadapinya karena yakin Dia juga akan menolong, membantu kita, karena Dia menjadi teman sepenanggungan, teman sependeritaan kendati Dia nampak sebagai bayi kecil yang lemah. Oleh karena itu Ibu bapak, saudari-saudara sekalian dalam suka cita dan kegembiraan menyambut kelahiran-Nya tidak lupa semestinya juga memohon agar kelahiran-Nya sungguh menguatkan kita semua lebih-lebih saudara-saudari kita yang menderita yang terlupakan yang terpinggirkan sehingga merekapun dapat ikut serta merasakan sukacita dan dikuatkan. Selamat merayakan Natal, menyambut kelahiran penyelamat kita. Amin

Kotbah Romo Martin Suhartono, SJ

Romo Martin Suhartono, Sj
”Mencari terang sejati.”
Injil Yohanes 1 : 6-8.19-28
Ekaristi Tgl 14 Desember 2008

Saudari-saudara ter-kasih, selamat sore. Ada seorang pemuda yang mencari terang sejati. Ia haus akan Tuhan, ia merindukan kebenaran, dan ia mendambakan pencerahan, yang dapat memberikan jawaban atas segala masalah kehidupannya. Ia pun mulai bermeditasi, berdoa, dan berpuasa. Ia nglakoni, orang jawa bilang. Tapa ngebleng, tidak kena sinar matahari, tidak kena sinar lampu, dalam kegelapan saja. Ia topo kungkum berendam disungai telanjang bulat, tidak apa-apa. Ia topo pendem, di pendem badannya seluruhnya di bawah tanah, hanya kepalanya yang nongol diatas, sampai di thotholi ayam, dikencingi anjing, ia tetap bertahan dalam topo pendem itu. Topo ngrowot, cuma makan rumput, ia pun tahan, tapi hatinya, masih belum mencapai pencerahan, ia pun mencari guru-guru rohani, kemana-mana, ia belajar, menyerap ilmu mereka, tetapi hati juga belum terpuaskan, sampai suatu hari dalam doanya ia mendengar bisikan, bahwa untuk mencari pencerahan dan kesempurnaan itu ia harus bertemu seorang Pertapa Suci, yang bertapa diatas puncak gunung yang tinggi, sulit dijangkau oleh manusia. Dan bisikan batin itu memperingatkan juga, ‘Disana nanti akan diberitahukan kepadanya bagaimana ia bisa mencapai kesempurnaan. Tapi ia hanya punya kesempatan mengajukan tiga pertanyaan, bukan tiga permintaan tetapi tiga pertanyaan maka ia harus mempersiapkan sungguh-sungguh.
Mulailah dia berpikir secara Filosofis, Teologis, mencoba merangkai, merumuskan tiga pertanyaan yang akan membawa dia ke pencerahan. Dan ia pun mulai perjalanannya. Lautan diseberangi, gunung-gunung di daki, semuanya dilewati, hutan belantara yang gelap, perjalanan amat sulit, berhadapan dengan perampok, monster-monster, vampir-vampir, apapun dia hadapi tanpa gentar, sampai suatu hari ia setelah melalui perjalanan mendaki gunung yang tinggi itu, beruang kali hampir ia terjungkal masuk ke jurang, tetapi ia tetap fokus, itulah tujuan kepuncak gunung, aku harus sampai kesana. Dan akhirnya tiba di puncak gunung, ada suatu pondok kecil, puncak gunung itu dikelilingi sedikit oleh salju; ia pun dengan hati berdebar-debar penuh gairah inilah pencerahanku, ia pun mengetok pintu pondok itu, ia membayangkan katanya pertapa suci ini sudah bertapa puluhan tahun. Tentunya ini seorang pertapa tua renta kepalanya suduh gundul jenggotnya panjang, tapi ternyata, ketika pintu pondok terbuka, aduhai, pusinglah dia tujuh keliling, karena ternyata gadis muda keluar. Kinyis-kinyis, kecantikannya, aduhai, bukan main mengalahkan segala mis-misan, dan lebih parah lagi atau lebih menggairahkan lagi, ia pakai bikini minim sampai tubuhnya pating pecotot kemana-mana. Alamak hilanglah lupalah segala pertanyaan filosofis, yang sudah dipersiapkan, dana malah dia bertanya,
“e.. maaf-maaf anda sudah bersuami?”
Gadis itu menjawab, “Sudah”
Lalu pertanyaan kedua, dia dengan penuh gairah dia bertanya, “Tetapi apakah suamimu dirumah?”
Pertapa itu menjawab, “Tidak.”
Dengan penuh gairah melihat ke peluang yang indah dia bertanya,” Kapan suamimu pulang”
Dan pertapa itu menjawab, ” Sebentar lagi.”
Nah sudah habis tiga pertanyaan silahkan pergi. Pemuda itu pun melongo, menyesali dan terlihat dihadapan matanya, gadis muda itu tiba-tiba berubah wujud menjadi nenek-nenek yang tua renta dan tertatih-tatih memasuki pondoknya.
Saudara-saudara terkasih, ada pepatah, ”Malu bertanya, sesat dijalan.” Tetapi bisa juga dari cerita tadi kita lihat, salah bertanya tidak mencapai tujuan.
Salah bertanya karena kita kehilangan fokus, kehilangan orientasi. Sang pemuda mencari terang sejati, mencari kesempurnaan mencari pencerahan, dan menyiapkan segala macam pertanyaan yang mendasar tentang kehidupan, tapi tidak fokus akhirnya terlena oleh kelemahannya.
Hari ini kita dengarkan saudari terkasih bagaimana orang-orang Yahudi di Yerusalem itu mengutus para imam dan orang Lewi, untuk menemui Yohanes Pembaptis, dan mari kita lihat, kita amati, bagaimana jenis pertanyaan yang mereka ajukan, apakah fokus, atau tidak.
Pertanyaan mereka, mereka bertanya siapakah Engkau, apakah Engkau Elia, apakah Engkau Mesias, apakah Engkau nabi yang akan datang. Dan anehnya, Yohanes Pembaptis itu menjawab, aku bukan mesias, coba kalau anda bertanya kepada saya, ”Romo ini siapa?
Lalu saya jawab, ’Saya bukan Romo Wisnu, Saya bukan Romo Heru, tentu anda merasa heran. ’Ini orang gimana-sih, tanya siapa kok malah, jawabnya bukan. Tapi dari jawaban, Yohanes itu kita tahu bahwa dia sadar. Orang-orang ini mencari mesias, maka dia bilang Aku bukan Mesias, orang-orang ini mencari kesempurnaan. Dan dia mengatakan Aku bukan kesempurnaan itu.
Aku hanya menunjukkan kemana kesempurnaan itu dapat engkau capai. Tapi ternyata apa yang terjadi dasar mereka itu utusan dari para penguasa, para penguasa kalau anda bertanya, ’Anda mencari Mesias misalnya. Lalu datang kepada saya, ’He apakah engkau Mesias.’
Lalu saya bilang, ’Saya bukan Mesias.’
pertanyaannya lebih lanjut apa? Logisnya saja. Lalu anda bertanya apa? Kita lihat orang Farisi ini malah bertanya. ’Kalalu engkau bukan Mesias, bukan Elia, bukan nabi yang akan datang, mengapa engkau membaptis?
Inilah dia. Para penguasa biasanya terlalu tergoda oleh pertanyaan tentang, Power, kuasa, hak legalitas, pertanyaannya, mana legalitasmu, untuk membaptis, padahal seharusnya pertanyaan apa. Kalau anda berhadapan dengan situasi sejenis. Anda mencari mesias, anda pikir orang ini mesias
”Apakah kamu Mesias?”
Dan dia bilang, ’Bukan, aku bukan Mesias.’ Pertanyaan lebih lanjut apa?
Anda tentu bertanya, ’Kalau begitu di manakah Mesias? Kalau engkau bukan Mesias, dimana mesias yang sejati. Dan Yohanes Pembaptis mengatakan itu. Dia mengatakan di tengah-tengah kamu ada yang berdiri lebih berharga. Lebih penting daripada aku. Tapi dasarnya mereka sudah tidak fokus lagi. Orang-orang ini kembali ke Yerusalem tidak berbuat apa-apa. Bagaimanakah pertanyaan orang lain. Tadi ini kisah dari Injil Yohanes saudara-saudara. Kalau kisah serupa anda baca dalam Injil Markus, Matius dan Lukas anda akan mendapati bahwa ada golongan orang lain, mereka itu datang kepada Yohanes Pembaptis mengaku bertobat, mengakukan dosa dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Bahkan lebih daripada itu pertanyaan muncul. Bukan siapa Yohanes Pembaptis itu? Tapi pertanyaannya dari Injil Lukas orang banyak bertanya kepada Yohanes Pembaptis; ’Apa yang harus kami perbuat?’
Inilah pertanyaan yang tepat, ’Apa yang harus kami perbuat’. Para pemungut cukai bertanya juga, guru apakah yang harus kami perbuat. Para prajurit bertanya juga dan kami apa yang harus kami perbuat. Inilah tidak mempersoalkan lagi, tidak fokus seperti para imam dan orang lewi. Mereka terfokus, ”Aku mau mencapai kesempurnaan dan apa yang harus kami buat?
Dan Yohanes Pembaptis menjawab, demikian pada orang banyak dia berkata, ”Barang siapa punya dua helai baju, hendaklah dia membaginya dengan yang tidak punya. Barang siapa punya makanan, hendaklah dia berbagi makanan juga dengan orang lain. Dan pada para pemungut cukai. Bila ada orang yang kerja di kantor pajak jangan tersinggung.
”Apa yang harus kami perbuat?”
Yohanes menjawab, ” Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.”
Dan prajurit yang bertanya begitu juga Yohanes Pembaptis menjawab, ” Jangan merampas, jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” kalau ada yang Tentara jangan tersinggung pada saya, marahlah pada Yohanes Pembaptis. Jangan me-meras, jangan merampas, cukupkanlah dengan gajimu.
Saudara-saudara terkasih, marilah kita bayangkan nanti di rumah anda, bayangkan melakukan perjalanan ke sungai Yordan, bertemu dengan Yohanes Pembaptis, coba anda kira-kira pertanyaan apa yang anda akan rumuskan. Lalu kalau anda tergoda, atau terdorong untuk bertanya? Seperti mereka ini, ”Apa yang harus kami perbuat?” Coba apa jawaban Yohanes Pembaptis bagi anda?”
Setiap orang, Yohanes menjawab permasalah yang dihadapi orang itu dan biasanya yang dihadapi orang itu adalah kelemahan-kelemahan kecil. Sama seperti pemuda tadi, yang mencari terang sejati, ia berpikir, sudah bertapa, berpuasa, berdoa, meditasi, mengalahkan segala monster, ternyata masih terlena oleh nafsu birahinya.
Begitu pula kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita biasanya tersandung bukan oleh batu yang besar. Tetapi tersandung oleh batu kerikil yang kecil-kecil. Kita tersandung oleh hal kecil.
Ada kisahnya. Seorang pemuda juga, setan mau menggodai dia. Diajak untuk memperkosa. Dia tidak mau, ’Itu melawan perintah Tuhan’. Dia diajak untuk membunuh orang dia bilang juga, ’Tidak itu melawan perintah Tuhan’. Akhirnya disodori apa? Beer dia pikir, ’Wah beer wah nggak apa-apa. Satu gelas, mulai dari satu gelas, dua gelas, tiga gelas, akhirnya dia mabuk. Pulang sempoyongan, ketemu gadis, ...waaaduhhh. karena dibawah kuasa beer, dia memperkosa gadis itu, dan orang lewat, wah dia kaget, ini ketahuan, gadis yang teriak-teriak dibunuh dan orang yang lewatpun dibunuh.
Itulah saudari dari yang kecil akhirnya dia malah terposok jauh lebih lagi di dalam dosa-dosanya. Silahkan temukan dalam diri anda sendiri kelemahan-kelemahan itu. Saudari-saudara terkasih apakah yang harus kita perbuat? Orang banyak datang kepada Yohanes Pembaptis mengakukan dosanya, bertobat dan memberi diri dibaptis. Dihari-hari mendatang menjelang Natal ini di banyak gereja saya kira di setiap gereja setiap hari pagi, dan sore di sediakan kesempatan untuk mengaku dosa, gunakanlah kesempatan itu, tanyalah kepada diri sendiri manakah kerikil-kerikil kelemahan-kelemahan yang ternyata, menjadi batu sandungan bagi anda. Anda mungkin sudah berpuasa, sudah berdoa, sudah sering ke gereja, tetapi mungkin masih ada kelemahan-kelemahan dan ada dosa-dosa kecil-kecil yang kalau dibiarkan tumbuh itu bagaikan rumput menjadi alang-alang akhirnya menjadi hutan belantara dan justru menghambat anda. Anda tidak fokus lagi pada tujuan anda mencari terang yang sejati. Maka datanglah gunakanlah kesempatan ini. Langkah pertama, adalah anda mengenal diri anda sendiri. Kelemahan dan dosa-dosa yang kecil-kecil yang akan menjadi batu penghalang bagi anda. Kedua akukanlah itu dihadapan Tuhan melalui wakilnya untuk mendapatkan pengampunan dosa, dan untuk mendapatkan kekuatan agar dapat mengalahkan segala kelemahan itu. Dan yang ketiga datanglah datanglah seperti Yohanes Pembaptis, dia hanya penunjuk jalan, dia hanya menunjuk pada terang sejati, Yesus sendiri datanglah kepada Kristus dan bertanya Yesus Tuhanku apakah yang harus kuperbuat untuk mencintai engkau lebih lagi. Untuk mengenal Engkau lebih lagi dan untuk megikuti Engkau lebih dekat lagi. Tujuannya semuanya terfokus agar kita menjadi seperti Kristus sendiri menyerupai Dia Amin.

Kotbah Romo FX. Agus Suryana Gunadi, Pr

Kotbah Romo FX. Agus Suryana Gunadi, Pr
“Menjaga hat dan Hidup”
Ekaristi Tgl 30 November 2008
Injl : Markus 13 : 33 – 37

Jagalah hati jangan kaukotori, jagalah hati lentera hidup ini, Jagalah hati jangan kaukotori, jagalah hati lentera hidup ini, Jagalah hati jangan kaukotori, jagalah hati lentera hidup ini.
Saudara-saudari anda pasti hapal dengan lagu itu, kok tiba-tiba masuk gereja, padahal itu biasanya dinyanyikan lakukan saudari-saudara kita orang muslim, tetapi itu baik sekali, jagalah hati lentera hidup ini, jangan kau kotori, maka kalau kita menantikan kehadiran Tuhan, ketika memasuki masa Adven menantikan Tuhan yang dekat kita rayakan kelahiran-Nya sekaligus menantikan Tuhan, kapan Tuhan menjemput saya, saya merindukan-Nya yaitu kehadiran Tuhan pada tahap yang kedua nanti kiamat. Apa yang kita buat adalah satu, menjaga hati yang kedua hiduplah, dan Kitab Yesaya mengajak kita untuk itu. Umat Israel jelas-jelas mengatakan jelas-jelas melalui nabi Yesaya mengatakan, “Ya Tuhan Engkau sendirilah Bapa kami sejak duhulu nama-Mu Ialah penebus kami.
Tetapi apa kemudian yang kita lihat dalam kitab Yesaya tadi, sekalipun mereka mengatakan, ”Engkaulah penebus kami, Engkaulah Bapa kami, tetapi hidupnya tidak berjaga-jaga. Tidak berjaga-jaga itu artinya dalam bahasa jawa. tahu ndeléyo apa, ndeléyo sekali lagi... ndeléyo. Ndeléyo itu alias kendor, sak geleme dhewe, ndeléyo jadi ingat kata-kata ndeléyo karena kita nanti akan nyanyi dengan kata ndeléyo. Sak geleme dhewe, sak karepe wudele dhewe, semau gue.
Saya kira kita semua sering kali ndeléyo . Kalau saya menyanggupi ya, saya sanggup jadi lektor, saya tau tugas saya, tanggal sekian, jam sekian tetapi saya tidak datang itu namanya saya ndeléyo.
kalau saya misalnya merencanakan rapat, besok ya jangan lupa ya, senin sore jam 7 kita rapat kita tepat waktu ya. Tetapi semua sudah datang, dan saya datang jam 8.00 malam. artinya saya ndeléyo . Kalau saya punya komitment Tuhan saya berniat setiap mau tidur saya akan berdoa terlebih dulu. Tetapi saya selau saja lupa artinya saya ndeléyo. kendor, semau gue, sakarepe dhewe.
Kalau saya misalnya seorang mahasiswa saya kalau ditanya orang kapan selesai kuliah besok artinya akan rampung, akhir Desember, ternyata sampai sekarang tetap saja bab 2 sejak setahun yang lalu dan tidak maju itu artinya saya ndeléyo. Jadi anda sudah bisa memakai kata ini untuk teman-teman anda ndeléyo. Kamu itu mbok jangan ndeléyo. ndeléyo kendor, semaunya, tidak Komit.
Kalau misalnya seorang yang Kos di Yogya. Saya selalu di kirimi uang orang tua untuk membayar kos tetapi ibu kos itu selalu mengeluh karena kita selalu nunggak tiga, empat bulan itu artinya saya ndeléyo. Bukan hanya orang jawa yang bisa mengatakannya ndeléyo, orang manapun bisa mengatakan ndeléyo. Itu namanya ndeléyo.
Kalau saya seorang ibu rumah tangga punya anak empat, punya suami tetapi saya terlalu sibuk dengan arisan, terlalu sibuk dengan aktivitas gereja sampai-sampai rumahnya itu berantakan dan saya tidak pernah memasak, apakah saya ibu yang baik. Tidak saya namanya ibu yang ndeléyo.
Kalau saya punya pacar, saya mengatakan kamu adalah pacar saya, tetapi saya mendua hati, itu namanya saya ndeléyo. Ada nggak pacar yang ndeléyo, ada? Andakan?.. men ndeléyo , mendua.
Kalau saya misalnya, Tuhan ini adven, saya muntup-muntup tahu artinya muntup-muntup, tahu. sudah ingin dan sudah diubun-ubun, saya ingin melakukannya, saya mau bertobat, saya mau memperbaiki hidup saya akan mengubah semangat hidup saya, saya akan mengubah kebiasaan saya, tetapi tetap saja sebenarnya hidup saya tidak berubah, itu namanya saya ndeléyo. dan banyak lagi, dalam banyak perkara kita ndeléyo.
Yang sudah berumur 40 tahun ke atas, sudah mulai diet. Setiap hari mengatakan Tuhan hari ini saya tidak akan makan nasi banyak-banyak. Ning nyatanya siang hari itu.. kok .. enak banget to gulenya. Saya makan banyak dengan gule dengan nasi yang banyak. namanya ndeléyo. Nanti anda pulang ingatlah buatlah litani ke ndeléyoan apa saja dalam hidup saya. Apakah saya juga ndeléyo, kendor, semau gue dalam hidup saya. Dala perkara apa saja ingat-ingat dan persembahkan itu kepada Tuhan.
Kalau ternyata ditemukan bahwa kita semua saya dan anda adalah banyak kali sebagai orang yang ndeléyo saat ini hari ini kita dingatkan, kita disadarkan kita diajak dan akhir dari perikop Yesaya tadi, umat Allah sadar sehingga bahkan dikatakan di sana. Tetapi sekarang ya Tuhan Engkaualah Bapa kami, kami ini tanah liat Engkaulah yang membentuk kami dan kami semua ini buatan tanganMu. Menyerahkan hidup kita pada Tuhan untuk dibentuk. Itulah namanya menjaga hati. Maka mari hati kita jaga memasuki masa adven ini.
Point yang kedua adalah soal hidup. Yang namanya hidup itu bukan suatu yang statis tetapi hidup itu bergerak, Action, hidup itu bertindak dan hari ini Tuhan memanggil. Kata berjaga -jaga itu berarti tidak kongko-kongko, tidak duduk-duduk, tidak sedeku, tidak menunggu, tidak. Tetapi dinamis, tetapi melakukan sesuatu, tetapi action apa yang kita perlu tindak? Yaitu ndeléyo, itu tadi. Mengurangi semangat ke ndeléyoan. Semangat kendor, Semangat semau gue. Tetapi ternyata Allah tidak hanya ingin bahwa kita berhenti di situ. Tuhan saya ingin memperbaiki hidup saya tidak akan ndeléyo lagi, saya ingin dekat dengan Engkau, saya ingin berdoa, saya ingin memperbaiki apa yang kendor dalam hidup saya. Bahkan Tuhan mengajak kita bukan hanya berhenti pada diri sendiri, pada pencapaian diri sendiri, tetapi mengajak menjadi berkat bagi orang lain, menjadi berkat.
Saudara-saudari yang dicintai Tuhan kalau anda kaum muda, tahun besok adalah tahun kaum muda dan Bapa Paus di Sydney berpesan pada kaum muda, pesannya begini.
Secara khusus saya meyakinkan anda. Bahwa Roh Kudus pada masa kini sedang mengundang anda orang muda, untuk menjadi pewarta kabar gembira. Untuk jaman anda. Maka mari maka kita berjaga-jaga untuk hidup dan jangan ndeléyo. tapi tindakno. Jangan kendor tapi action, do, lakukanlah.
Jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini. Itu pesan saya.
Saudari-saudara yang dicintai Tuhan saya pastor paroki Bintaran. Pernah ada yang ke Bintaran. Bintaran itu letaknya titikane Malioboro, karena banyak orang yang juga belum tahu Bintaran. Malioboro ujung ada kantor Pos, kekiri, ada perempatan pertama ,lampu merah namanya perempatan Gondomanan, lurus ke timur lagi perempatan kedua belok kanan 50 meter sudah ada gereja yang aneh. Gereja itu unik, Gereja itu bersejarah. Kalau mau tahu sejarahnya tadi sudah ditampilkan tapi diantaranya saya menemukan, bukan saya ditemukanlah surat dari Presiden Soekarno kepada Mgr. Soegyopranoto ketika tinggal dibintaran tahun 1948, suratnya ini saya Copykan.
Jelas Tulisannya Bung Karno, ya. Oh iya ini saya foto, iya tulisannya Bung Karno untuk Mgr Soegyopranoto. Jadi Soekarno ada di gedung Agung, di istana negara Malioboro, kemudian Mgr Soegiyapranata yang pahlawan Nasional tinggal di Bintaran saya bacakan untuk anda.
Yogyakarta, Kopnya Presiden Republik Indonesia. Yogykarta 10 – 8 - 48. yang Mulia Mgr Soegiyapranata. Bersama ini saya mengirim kepada Yang Mulia satu lukisan. Satu copy oleh seorang pelukis bangsa Italia yang termasyhur. Saya mendapatkan Lukisan itu di dalam satu asrama, dari pada ia rusak lebih baik saya peliharanya, sekarang saya bergembira, bergembira hati dapat menyerahkan lukisan itu kepada yang mulia. ( Bung Karno menyebut, Mgr, Yang Mulia, presiden ini, ) sebagai tanda penghargaan saya kepada golongan Room Katolik di Indonesia. Moga-moga golongan Room Katolik tetap sejahtera dalam Republik, demikianlah harapan saya. Merdeka. Lalu ada tanda tangan Soekarno dan dibawahnya tulisannya. Presiden.
Anda benar disimpan di Keuskupan yang Asli. Saudari-saudara yang dicintai Tuhan itu hanya salah satu fakta sejarah, bahwa gereja Kompleks bintaran itu, menjadi saksi sejarah peran Soegiyapranata yang akhirnya diangkat menjadi pahlawan nasional satu-satunya pastor dan uskup yang dianggkat menjadi pahlawan nasional di Indonesia. Tetapi juga peran umat katolik di Indonesia. Tetapi lebih dari itu gereja bintaran itu sungguh-sungguh sarat dengan sejarah. Kalau kita berpikir tentang sidang Agung Gereja Katolik pertama-tama diselenggarakan di Bintaran Tahun 1948. kalau berpikir soal gereja lingkungan yang sekarang merata di Indonesia lahirnya di mana. Di Bintaran tahun 1934. ketika Soegiyapranata mengumpulkan romo-romo untuk berkonferensi. Kalau kita berpikir soal partai, partai katolik yang pertama lahir dimana, di Bintaran. Dengan tokoh IJ Kasimo. Orang Bintaran, dan Bintaran bukanlah paroki orang lain, tetapi Bintaran adalah monumen kita. Monumen perjuangan orang-orang katolik di Indonesia. Dan sekarang gereja itu retak dimana-mana. Pastorannya, Aulanya, gerejanya. Anda bisa melihatnya langsung. Maka saudari-saudara saya menghimbau, itu milik kita bersama, ayo kita lestarikan. Ayo kita pugar, dengan baik. Maka kalalu anda sudah menerima amplop sudah menerima brosur. Amplop ini diisi ya secara Mirunggan, sacara Mirunggan. Brosur ini jangan ditinggal atau dimasukkan di amplop di bawa pulang dikasihkan pada orang lain anda menjadi berkat dengan itu. Ya Amin.

Kotbah Romo Ignatius Dradjat Soesilo, SJ

Romo Ignatius Dradjat Soesilo, Sj
”Yesus Kristus Raja Semesta Alam”
Ekaristi Tgl 23 November 2008

Ibu-bapak saudara-saudari, adik-adik yang terkasih dalam Tuhan. Selamat sore, siapa diantara ibu-bapak adik-adik yang tidak pernah mendengar atau kenal yang namanya raja, silahkan tunjuk jari.
Untuk masyarakat Yogya. Istilah raja, lebih mudah dikenal. Karena di daerah ini dipimpin oleh seorang raja, yang lebih dikenal dengan Sultan. Siapa Sultan kita ? Siapa?
Hamengku Buwono, ke berapa? Ke Sepuluh.
Hari ini kita merayakan seorang Raja. Tetapi bukan sembarang Raja, kita rayakan pada hari ini. Kita merayakan Kristus Raja Semesta Alam. Sebagai Raja, Ia bakal menghakimi semua bangsa dan penghakiman-Nya itu tidak terjadi semena-mena dan sembarangan. Kalau Raja, pemimpin ataupun hakim sering mengahikimi orang berdasarkan apa mereka dekat atau tidak, apakah mereka bisa menyumbangkan sesuatu untuk kepentinganku. Tetapi Yesus, sebagai seorang Raja yang akan menghakimi itu Dia akan menghakimi semua bangsa dengan seadil-adilnya. Tidak melihat siapa orangnya. Tetapi yang dilihat adalah apa yang telah Dia lakukan selama dia, masih hidup ditengah-tengah dunia ini. Apakah dia memiliki kepedulian terhadap saudaranya yang menderita, atau tinggal diam dan tanpa peduli ketika melihat orang yang sedang menderita. Apakah dia memiliki keprihatinan ketika melihat orang yang telanjang, yang kelaparan, ataukah dia hanya duduk enak-enak mementingkan diri sendiri. Yesus adalah Raja dan sekaligus Dia akan menjadi hakim yang adil untuk semua bangsa berdasarkan perbuatan seseorang terhadap sesamanya. Kalau orang berbuat baik dan mau melayani, serta memiliki solidaritas, terhadap saudara-saudarinya yang menderita, maka ia akan memperoleh ganjaran. Tetapi sebaliknya bila hanya mementingkan diri sendiri dan tanpa pernah peduli terhadap sesamanya yang menderita dia akan memperoleh hukuman.
Yang kedua sebagai seorang Raja dia sungguh-sungguh mengenal rakyatnya. Tidak seperti pemimpin di jaman sekarang ini dimana pura-pura sok kenal ketika akan terjadi proses pemilihan. Tetapi ketika sudah dipilih, lupa akan siapa yang memilih. Bahkan hanya mementingkan dirinya sendiri, atau kelompoknya, atau keluarganya.
Tetapi Yesus sebagai seorang Raja, Dia sungguh mengenal rakyatnya. Bagaikan gembala yang mengenal domba-dombanya. Dikatakan dalam bacaan yang pertama. Aku sendiri akan meng-gembalakan domba-domba-Ku. Dan aku akan membiarkan mereka berbaring dan lebih lanjut dia mengatakan demikian, ”Yang tersesat akan kubawa pulang yang luka akan kubalut, yang sakit akan kukuatkan, serta yang gemuk dan kuat akan kulindungi.
Dengan kata lain Yesus adalah seorang Raja, Raja yang benar-benar mau mengenal siapakah kita yang menjadi umat-Nya. Bahkan Dia, menurut Paulus menanggalkan ke Allahan-Nya. Dan merendahkan diri menjadi manusia sama seperti kita supaya dia bisa mengenal kita semua.
Yang ketiga, Yesus adalah Raja yang mau mengidentifikasikan diri-Nya sebagai orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan cacat. Kalau kamu tidak melakukan sesuatu kepada saudara-Ku yang paling hina ini, kamu tidak melakukkanNya untuk Aku. Yesus bukanlah seperti pemimpin dimana merasa dan sok dekat dengan orang kecil. Kita tahu sebentar lagi akan ada pemilu. Dan sebentar lagi partai-partai itu pasti akan mendekati masyarakat, dengan berbagai macam program, yang sok merasa dekat, yang sok merasa kenal, yang sok merasa mau menolong tetapi, setelah mereka dipilih, lupa terhadap penderitaan rakyatnya. Tetapi Yesus bukan pribadi yang seperti itu. Yesus adalah pribadi dan Raja yang benar-benar peduli, bahkan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang kecil, kalau kamu menolong saudaraKu yang paling hina ini kamu melakukannya untuk Aku. Apa relevansinya kita merayakan Kristus Raja Alam semesta untuk kita dijaman sekarang. Sebagai pengikut-pengikut Yesus, tidak cukup kita beribadah memuji, memuliakan nama Allah di dalam gereja. Iman kita akan Allah itu harus kita wujudkan dalam perbuatan yang nyata, melalui sikap solider, dan membangun solidaritas terhadap seorang-sama, lebih-lebih mereka yang berke-kurangan, mereka yang membutuhkan perhatian, mereka yang benar-benar menderita, kita harus terbuka mengulurkan tangan supaya kasih Allah semakin bisa dirasakan oleh banyak orang.
Ibu- bapak, saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan, saya menghaturkan terimakasih, kepada ibu dan Bapak, yang selama kurang lebih, dua tahun lebih tiga bulan, boleh bersama-sama, hidup dalam kebersamaan dengan anda semua, saya sungguh-sungguh merasa, diperkembangkan imamat saya, ketika saya boleh melayani anda, semua. Sebentar lagi tanggal satu Desember, saya akan pindah ke paroki Isidorus Sukorejo, tadi ada yang tanya Sukarejo itu mana, to? Apanya Solo. Sukorejo itu dekatnya Waleri, Temanggung Parakan, saya akan pindah diparoki desa, dimana di situ, kurang lebih ada empat belas Stasi yang tersebar, sampai kepelosok-pelosok dan juga disitu ada Asrama yang menampung, anak-anak yang menginginkan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Maka pada kesempatan ini pertama-tama saya sungguh ingin menghaturkan termakasih yang sedalam-dalamnya dan setulus-tulusnya, akan kebersamaan kita. Akan saya boleh hadir bersama-sama ditengah ibu dan bapak, dan saya, sungguh merasa, bahwa Gereja Kotabaru ini sungguh Gereja yang luar biasa, sungguh merupakan Gereja yang terbuka, banyak orang datang, ke Gereja ini dan mereka kemudian menjadi kenal satu sama lain, justru di tempat ini juga. Tetapi Gereja Kotabaru, bukan hanya milik orang Kotabaru tetapi milik banyak orang. Bahkan ketika saya kemarin serah terima di Sukorejo, ”Romo saya kalau ke Yogya, pasti Gerejanya ke Kotabaru, lho... banyak orang Sukorejo mengatakan demikian. Gereja Kotabaru adalah tempat dimana banyak orang bisa berkumpul bertemu, untuk saling berkomunikasi, saling memuji dan memuliakan, lebih-lebih Allah Tuhan kita tetapi Gereja Kotabaru, juga merupakan Gereja yang terbuka, bukan hanya untuk menyambut semua orang datang kesini, tetapi juga memiliki keterbukaan dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan uluran bantuan kita. Maka ini sungguh-sungguh memperkembangkan dan mendewasakan serta menguatkan imamat saya, saya boleh mengalami pengalaman bersama anda semua. Dan kalau ada sesuatu yang barangkali tidak mengenakkan, Romo Dradjat itu nek kotbah rasah nggo mic wis do krunggu, .. banter banget, atau ada kata-kata yang barangkali sedikit menyinggung perasaan ibu-bapak saya dengan segala kerendahan hati, dan kejujuran hati ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Ibu dan Bapak saudara-saudari selalu ada dalam doa-doa saya, meskipun saya pindah, dan saya masih berharap ibu dan bapak juga, mendoakan saya untuk semakin, bisa melayani umat dengan baik, diparoki yang akan saya tinggal hidup di sana. Juga secara khusus, saya ingin menghaturkan terimakasih, untuk Romo Wisnumurti yang boleh bersama-sama dengan beliau, saya hidup berkomunitas, dengan beliau, ditempat ini sungguh merupakan pengalaman yang menyenangkan, sekali lagi, terimakasih, atas segala kebersamaan kita, Amin. ( Aplaus... )