Kotbah Romo Yosephus I. Iswarahadi, SJ

”Komunikasi yang Menguatkan.” Ekaristi Tgl. 16 Mei 2010 Injil Yoh 17 : 20 - 26 Tadi menjelang misa ini telah kami putarkan sebuah video Klip...

Sabtu, 10 Juli 2010

Kotbah Romo Bernhard Kieser, SJ

“ Ikut Yesus Dalam Perjuangan-Nya.”
Ekaristi Februari 2010
Injil Lukas 5 : 1 -11

Saudara-saudari bukan hanya Petrus, kita semua hidup dalam perahu yang sama bersama dengan Kristus. Orang banyak ingin mendengarkan Sabda Allah, dan dari mulut Yesus mereka tidak mendapat petunjuk dari surga. Dari Yesus yang duduk di perahu Simon Petrus itu, masing-masing dari antara mereka dijamah. Di wongke, apapun nasib hidupku dari kata-kata Yesus aku disapa, dianggap orang. Kemanapun jalan hidupku, kapanpun aku dipanggil Tuhan, sekarang ini pun Tuhan mengenal dan mengerti hatiku. Memang dari perahu Petrus itu Yesus mewartakan Allah yang adalah Tuhan, andalan dan kebanggaan hidupku, lalu setiap hari tambah banyak dari antara kalian setiap hari minggu datang untuk ikut merayakan ekaristi mendengarkan sabda Yesus, supaya sekedar merasa nyaman penuh pengharapan bersama Yesus. Koor Gereja bagai bahtera mengarungi jaman. Dan sekali waktu juga sekoci petrus itu digempur itu oleh ombak. Dan di gesar oleh angin, sama sekali tidak lagi nyaman tetapi duduk besama dengan Yesus, disegala jaman lalu ada orang juga dan atas sabda Yesus menjawab dengan tega dan berani, atas sabdaMu aku hari inipun menyebarkan jala.
Mulai dari jaman murid-murid pertama waktu Paulus masih keliling dari kota ke kota. Teman- temannya itu seperti mas Adwila dan ibu Priska membuka ruko mereka itu di kota Roma dan kota Korintus dan mungkin di kota Efesus entah di mana mereka mempunyai toko itu. Supaya teman-teman seiman bisa berkumpul.
Sampai jaman jepang itu dekat di Yogya, di Bantul, waktu semua imam itu disini itu di tahan di dalam kamps. Baptis dari bantul keliling dan mengumpulkan teman-teman setia. Dan tahun 2010 ini muda-mudi itu di Pande Sumbang dekat muntilan itu mencari tani- tani organik lintas desa. Dan dekat sini anak-anak asrama di jalan Supadi menebarkan tawa mereka dan mencari teman-teman mereka di tepi kali code untuk belajar bersama. Semua itu membuat apa yang dilukiskan itu pada halaman muka dari teks perayaan Ekaristi ini. Menjala manusia, artinya hidup-hidup menganyam manusia, kedalam persaudaraan untuk hidup. Menularkan rasa nyaman, bersama dengan Yesus dalam satu perahu itu. Habis Allah mau menjadi andalan untuk setiap orang. Lalu memang adalah tugas semua murid Yesus dari kalian semua untuk ikut serta dalam perjuangan Yesus, ikut menyebarkan rasa nyaman bersama Yesus. Dari syarat khusus dari bulan juni tahun 2009 sampai 2010 bulan juni itu waktunya dikhususkan oleh Paus Benediktus di seluruh dunia menjadi tahun pembaharuan hidup para Imam.
Pada Paus seluas dunia, pelayanan imam berada dalam Krisis, dan Gereja menderita karena sejumlah imam yang tidak setia pada panggilan Kristus. Ini diangkat itu oleh Bapa Uskup yang sudah pindah, supaya kami melakukan retret bersama-sama, supaya kita merenungkan kesetiaan Yesus, dan bagaimana kita setia menjawab kepada Dia. Cuma apapun krisis para orang imam, tetapi apakah ini betul? Dengan 224 juta penduduk terhitung 3650 imam yang melayani sebanyak tujuh juta orang Katolik.
Keuskupan Agung semarang dengan kurang dari 400.000 orang katolik terhitung 416 imam mereka membina Paroki, mereka itu mengajar di Universitas, memimpin kelompok doa, mereka bekerja sosial dan banyak itu yang mengajar calon-calon imam itu seperti saya, satu imam untuk 950 orang katolik, apakah ini kurang? Apa lagi itu bila dibandingkan dengan lain negara, dimana ada satu imam untuk 3000 orang lebih orang katolik. Itu seperti seumpamanya itu di keuskupan dimana dulu saya dibaptis. Ketika itu krisis imam, adalah krisis itu bahwa ada orang yang meninggalkan imamat. Dan tambah pula itu 5 teman dari Serikat Yesus teman saya yang tidak lagi menjabat imam dari salah satu dulu sebagai Pastor Paroki.
Apakah ini adalah krisis itu bahwa mereka tidak lagi misa itu dan pakai jubah. Kenyataannya itu lain sama sekali, setiap hari. Sebab diharapakan bahwa pagi hari jam setengah enam tepat waktunya imam merayakan Ekaristi yang dengan umat yang berkumpul disini, dan bahwa di cermat sore hari merayakan ekaristi di lingkungan dan kalau ada orang yang mati itu siap sedia pada siang hari. Adalah tugas imam untuk tidak menolak siapapun kalau dia diminta bantuan. Tugas imam itu adalah supaya perkawinan-perkawinan diparoki yang fair, dan supaya anak-anak itu dianimasi berkolompok, di kelompok putra altar atau muda katolik.
Adalah tugas imam itu supaya ruang paroki itu terhitung dan gedung gereja itu dan entah berapa tugas lagi yang rutin setiap hari. Bayangkanlah orang muda yang selama sepuluh tahun disimpan di seminari lebih lagi itu dari sepuluh tahun. Hanya karena Tahbisannya ditaruh di depan kalian semua, memimpin perayaan ekaristi di junjung tinggi itu sebagai paduka romo dan sekaligus pada waktu yang sama dirantai itu pada roda tugas, yang seperti mesin itu putar terus setiap hari tanpa ampun.
Adalah krisis imam apakah orang yang dijunjung tinggi itu dan di rantai pada tugas setiap hari pun masih mampu untuk menularkan rasa nyaman bersama dengan Tuhan kepada setiap orang yang dia jumpai dipastoran atau di gereja. Setiap orang yang dipanggil menjadi imam juga dapat menularkan rasa nyaman untuk Pastor dari Arrt. Seratus lima puluh tahun lebih di Perancis karena memang orang itu di datangi dari seluruh negeri karena orang merasakan orang itu menularkan rasa nyaman dalam Tuhan.
Tadi saya tanya apakah kalian yang duduk setiap hari minggu disini dan mengharapkan bahwa di sentuh sedikit merasa nyaman, apa yang dapat kalian buat. Supaya imam itu dibantu untuk menularkan rasa nyaman itu. Saya yakin tidak semua dan khususnya orang-orang di Kotabaru, mempunyai masih seorang lain yang mendoakan imam-imam itu di Keuskupan ini. Dan khususnya kami disini di Kotabaru, mengapa?
Pada tanggal 25 Mei 1947, di gereja ini bersama dengan tiga teman lainnya mas Iming. Anak pak lurah dari desa kliwonan godean ditahbiskan imam menjad romo Darmoyuwuno, di masa waktu kolonel Soeharto merebut kembali kota Yogyakarta. Romo Darmoyuwono yang baru ditahbiskan itu menjadi pastor di Ganjuran dan setelah itu dia Pastor di klaten, dan kemudian dia membangun gereja Purbowardayan di solo, dan waktu romo kanjeng Soegiyopranoto meninggal 1964 dia diangkat menjadi uskup Agung Semarang. Juga romo Darmoyuwono itu bukan romo kanjeng seperti Romo Soegiyopranoto.
Di tahun keUskupannya yang pertama ia masih ikut konsili megah itu di Roma, bayangkanlah 2500 uskup dari seluruh dunia itu berkumpul di gereja St. Petrus dan kisahnya di uskup agung dari semarang datang ke sana bukan dalam pakaian besar sebagai uskup tetapi dengan pakai baju batik. Dan di depan pintu gereja St. Petrus, ia mengganti pakaian, mengeluarkan baju kebesarannya itu dari tas kresek yang ia bawa. Dan dua hari setelah konsili selesai tanggal 10 Desember tahun 1965 dia kembali ke keuskupannya di negara kita yang di cabik itu oleh G 30 S. Dan keliling itu dari paroki ke paroki untuk mencari kembali umatnya, yang katolik dan yang mereka yang tertuang itu sebagai pastor. Sampai sentuhannya itu dirasakan sampai sekarang sebagai karya sosial Kardinal.
Orang merasa diri disentuh bukan hanya karena semboyan itu berarti aku percaya Engkaulaah Allah andalanku. Orang ini bisa menularkan dan menyentuh orang karena dia sendiri bisa disentuh. Sekarang ini beliau mendoakan kita, supaya semangat iman di kesukupannya dulu tida pudar. Dia mengajak kita, ayo supaya umat kita mengularkan rasa nyaman kepada Pastor dan Pastor kepada umat. Bukan dengan mengacung jempol dan mengatakan monggo romo itu sak kersanipun. Melainkan dengan mengulurkan tangan dan menyapa orang dari hati ke hati.
Beberapa hari yang lalu saya singgah di keluarga bu Fatimah, duduk di depan di kursi tamu, anak mereka yang kecil belum TK, keluar dari dapur belakang dan membawa dua biji rambutan. Ibunya itu tersenyum itu waktu anak itu langsung menuju saya dan mengulurkan tangannya itu dengan rambutan itu seperti mau mengahadiahkannya itu kepada saya, dan kami bertiga tertawa terbahak-bahak waktu dari mulutnya yang kecil itu keluar komandonya yang jelas, ” Om romo, you on time?
Ulurkanlah tanganmu dan bicaralah inilah yang menularkan rasa nyaman, bersama dengan Yesus. Amin.

Kotbah Romo Yohanes Hartono, SJ

“Rahmat Pembaptisan Menyelamatkan.”
Ekaristi Tgl 10 Januari 2010
Injil Lukas 3 : 15- 16. 21-22

Saudari-saudaraku terkasih, bapak-ibu sekalian, hari ini adalah pesta Pembaptisan Tuhan, puncak dari masa Natal, kata orang seperti kita orang dari gereja Barat. Tetapi kalau orang gereja Timur mengatakannya adalah masa Penampakan Tuhan. Sedianya saling melengkapi dan kita semua mau diajak kembali kepada gua Natal yang menyimpan misteri Allah beserta kita. Allah yang menampakkan diri di tengah-tengah kita. Maka ini hari terakhir hari gua Natal anak-anak kalau masih mau melihat nanti silahkan lalu besok sudah hampir pasti, kita harus menunggu lagi satu tahun lagi. Hari ini sepertinya mau mengatakan semoga Natal tidak cepat berlalu.
Saudari-sadaraku mengapa demikian? Karena Natal bagaimanapun juga menghadirkan kepada kita kebahagiaan tertentu. Kita masih ingat kumpul-kumpul keluarga, kita masih ingat merencanakan liturgi perayaan di gereja ini atau di tempat yang khusus yang kita pilih agar keluarga-keluarga yang tidak mau merayakan di tempat-tempat besar tapi pergi ke tempat kecil, supaya rasa kandang yang sendiri itu bisa teralami. Pokoknya Natal pesan Allah beserta kita ingin dibawa secara istimewa karena itu mengingatkan jati diri kita sebagai orang Kristiani, yang juga sekali lagi ditegaskan ketika kita dibaptis. Kita mau membuka diri akan uluran tangan Allah beserta kita.
Pada masa liburan seperti ini kami yang di universitas, saya pernah membantu sebuah Paroki dan heran sekali ada program yang ditata untuk menerima kembali orang katolik yang kembali ke Gereja. Maksudnya apa? mereka ini sudah 50 tahunan tidak lagi ke gereja. Mereka ini biasanya sampai 30 tahun meninggalkan Gereja. Tetapi ada rasa tertentu mungkin di dalam hatinya mereka ingin melihat lagi buku baptis di mana nama mereka ditulis dengan nama orang tua dan emban baptis, semacam nostalgia yang ada kaitannya dengan iman. Atau mereka merindukan pada suatu saat, ketika kita mendengarkan Sabda Allah di gereja ini sesuatu menyapa. Kehidupan di luar kadang-kadang sungguh hampa sabda, katakanlah demikian. Tidak seperti yang kita baca paling tidak setiap saat kita berkumpul. Dengan kata lain sepertinya mereka ini mau mengatakan siapapun aku, aku adalah orang yang pernah dibaptis. Aku tidak sendiri, aku punya teman. Aku punya komunitas, aku punya Gereja, yang selalu membuka tangan bagiku. Aku tidak sendiri, juga tidak sendiri saat aku ingin menemukan apa makna hidupku di tengah kesibukan dan luar biasa pekerjaan sehari-hari yang seringkali memakan kita begitu saja. Lupa bahwa hidup kita jauh lebih berarti daripada sekedar bekerja saja.
Saudari-saudaraku terkasih, cerita ini mungkin masih jauh dari kita, mungkin masa depan kita akan sampai, siapa tahu? Tapi marilah kita kembali kepada pesta hari ini pesta Pembaptisan Tuhan. Marilah kita mencoba memahaminya secara lebih dalam. Saudari-saudaraku terkasih, kita mendengar sore hari ini pewartaan tentang Pembaptisan Tuhan melalui Injil Lukas, Injil yang khusus sekali. Marilah kita memahaminya dengan latar belakangnya. Latar belakang yang diketengahkan oleh Lukas untuk pembaptisan Yesus adalah kehadiran Yohanes Pembaptis. Suara yang berseru-seru seperti yang dikatakan oleh nabi Yesaya. Suara yang berseru-seru ditengah-tengah padang gurun kehidupan. Apa yang diserukannya, apa yang dikatakannya Yohanes Pembaptis. Pertama, “Bertobatlah, bertobatlah.” Yohanes juga mengatakan berganti haluan hidup mari kita meninjau kembali. Kalau kita menjauhi Allah marilah kita balik banting setir, mengarahkan kehidupan kita kepada Tuhan. Atau seperti dikatakan Lukas 30. mungkin bisa dikatakan demikian. Lukas bab 3 ayat 10 ; “Temukanlah kebahagiaan yang berasal dari hatimu. Yang berasal dari pengalaman dibebaskan dari dosa.” Pewartaan Yohanes adalah pewartaan pengampunan dosa. Supaya orang bertobat. Lalu datanglah Yesus, bersama dengan orang banyak itu memberikan diriNya dibaptis. Yesus juga mendengar pertanyaan orang kepada Yohanes pembaptis orang banyak bertanya, pemungut cukai bertanya, para prajurit bertanya, Yesus mendengar Yohanes mengatakan; “Kalau engkau mempunyai dua helai baju, bagikanlah; kalau engkau mempunyai makanan lebih bagikanlah; jangan makan riba, jangan memeras, jangan merampas.” Saya membayangkan Yesus memikirkan hal itu juga. Dan salah satu pertanyaan besar di dalam semua Injil, saudara-saudariku, mengapa Yesus harus dibaptis? Kalau Gereja mengatakan, Gereja mengimani bahwa Ia tidak berdosa. Satu-satunya jawaban yang bisa kita jawab. Kita temukan dalam reflkesi Romo Tom Yakob sajalah, Kitab Suci mengatakan “Dia mau menjadi sesama kita. Dia ingin terhitung dari antara yang durhaka. Dia ingin menjadi teman sepeziarahan kita sekalian.”
Lalu Lukas menyampaikan sesuatu yang penting sekali yaitu keyakinannya. Apa yang dikatakan Lukas? “Roh Kudus turun terdengar suara, suara yang Ilahi mengatakan, “Engkaulah Putra terkasih, Engkaulah Anak yang kukasihi kepadaMu Aku berkenan.”
Lukas mau mengatakan bukan, “Hai, mari kita bersyukur bersorak pesta karena Yesus dilantik,Dia punya status sebagai Anak Allah”. Bukan begitu, Lukas mau mengatakan,
“Yesus memulai pekerjaannya, bukan soal status Yesus, sekali lagi, ingin memulai pekerjaanNya sebagai Penebus.” Maka pembaptisan Yesus bagi Santo Lukas berarti Yesus yang terbuka bagi kekuatan-kekuatan Allah, Yesus membuka diri supaya kekuatan-kekuatan Ilahi meresapi kehidupanNya, mengarahkan hidupnya dan menjadi tuntunan kita dalam hal iman dan kehidupan beriman seperti dikatakan Ibrani 12 ayat 2. Maka saudara-saudariku terkasih, Lukas mau menegaskan kepada kita, “Hai inilah kehendak Allah.” Lalu kita bertanya, Santo Lukas apa kehendak Allah?
“Kehendak Allah adalah ini, kehendak Allah adalah Allah ingin menyertai umatNya.”
Dan di dalam Yesus secara khusus kalau kita dibaptis kita mengatakan, Amin, kepada Yesus, Allah yang menyertai umatnya menjadi konkret karena kita terima kita ia..i Matius 3 ayat 12 mengatakan, “ Yesus berkata, biarlah hal itu terjadi agar kehendak Allah digenapkan.”
Saudara-saudariku terkasih, lalu apa pesan untuk kita, pesan khusus untuk kita. Silahkan menemukan sendiri, saya mengusulkan dua hal ini. Yang pertama dalam perayaan hari ini kita tidak hanya menerima keselamatan tetapi kita juga diundang untuk mengamalkan rahmat baptis kita. Lalu kita boleh bertanya kepada Santo Lukas,
“Contohnya gimana Lukas?
Contohnya adalah misalnya Lukas 10 ayat 25 mengatakan, “Mengapa tidak engkau menjadi seperti orang Samaria yang baik hati itu, membantu mereka yang luka”, atau kita ingat yang dibacakan Lukas, “Kalau engkau mempunyai dua helai baju bagikanlah, makanan berbagilah bagi mereka yang kelaparan. Jangan mengambil riba, jangan memeras, jangan merampas.”
Lukas juga mengatakan kepada kita saudari-saudarku, terkasih. Yesus tidak hanya mengundang tetapi mengutus murid-muridNya. Lukas 9 ayat 2 mengatakan hal itu. “Yesus mengutus murid-muridNya untuk mewartakan kerajaan Allah. Untuk menyem-buhkan orang.”
Yang terakhir, satu kata penting di dalam Injil hari ini adalah DOA. Kalau kita lihat kembali di halaman 6 kita menemukan bahwa ketika Yesus mengalami Allah yang berkenan kepadaNya ketika langit terbuka, ketika roh kudus turun kepadaNya. Dikatakan, “Yesus sedang berdoa”, apa artinya doa? Doa berarti disini terbuka; doa berarti mau membiarkan kekuatan Ilahi meresapi kehidupanNya. Doa bagi kita berarti saat menimbang, saat hening untuk mengutamakan dan mempersilahkan Allah memimpin kehidupan kita.
Seputar tahun baru ini saya dapat email yang luar biasa dari seorang teman lama. Hanya saya ingin mensharingkannya demkian, singkatnya dia mengatakan demikian,
“Romo saya dengan suami saya itu makin lama makin jelas sekali perbedaannya. Singkat kata romo suami saya masih tetap bekerja di kantor Keuskupan, kalau pulang ia langsung buka TV, dia nonton TV dan sering kali tidak hanya nonton TV. Dia buka radio bersamaan nonton TV dan mendengarkan radio. Saya lebih senang keheningan, saya lebih senang sepi dan waktu saya lebih senang saya pakai untuk anak-anak, bersama anak-anak mengantar anak-anak untuk les untuk sekolah dan seterusnya. Pokoknya sangat berbeda.” Lalu dia mengatakan, “Satu hal yang sama, antara aku dan suamiku adalah Yesus Kristus”.
Saya penasaran, saya tanya teman apa yang terjadi dengan keluarga ini. Dia mengatakan, teman saya mengatakan, “Keluarga ini sebetulnya sudah banya up and down, jatuh bangun, sudah seperti kapal pecah, sudah beberapa kali memikirkan pisah saja. Terlalu besar perbedaannya.” Tetapi mereka entah bagaimana masing-masing keluarga punya rahasiannya sendiri, menemukan Yesus Kristus, mereka direkatkan oleh rahmat baptis itu yang menyatukan mereka dalam suka dan duka.
Maka saudara-saudariku terkasih, betul kata Santo Paulus kepada Titus bab 3 ayat 5 ; “Dibaptis berarti lahir kembali, mendapatkan pembaharuan hidup di dalam Kristus,” Marilah kita bersyukur untuk rahmat ini dan juga bagi kita yang masih merindukannya, masih menimbang untuk dibaptis apa tidak. Marilah kita juga berdoa untuk keluarga-keluarga yang berjuang, kita berdoa juga untuk Gereja semoga makin terbuka kepada Allah beserta kita. Amin

Frater Elyas Amburat Dukita, SJ

”Jadilah bagian dari Solusi.”
Ekaristi Tgl 17 Januari 2010
Injil Yohanes 2 : 1 – 11

Selamat sore bapak-ibu, saudari-saudara sekalian, adik-adik, kita berkumpul sore hari ini dalam misa kudus, dan dalam bacaan injil tadi kita telah membaca dan mendengar bahwa Maria ibu Yesus telah bertindak atau berbuat sesuatu karena dia mempunyai karunia yang diberikan oleh Allah. Karunia apa yang diberikan oleh Allah kepada Maria? Karunianya adalah Yesus Kristus sendiri.
Lalu kira-kira alasan apa yang ada di dalam benak Maria dalam melakukan tindakan tersebut, meminta apa kira-kira? Ibu Yesus, Maria paham akan situasi yang dihadapi oleh orang lain, yakni yang mempunyai pesta perkawinan itu. Apa yang dihadapi, kekurangan anggur. Dan Maria tahu apa yang harus dikerjakan dalam situasi tersebut.
Selain Maria paham akan situasi yang ada mengenai kekurangan dan dia harus berbuat sesuatu alasan apalagi yang dia punya. Mengapa dia berani meminta Yesus untuk berbuat sesuatu. Karena Maria sadar dan paham sekali bahwa dia mempunyai karunia yang tidak setiap orang punya. Yaitu Yesus Kristus sendiri. Dia yang sadar bahwa dia di anugerahi hal yang sungguh-sungguh besar dan dia mau mengambil resiko untuk berbagi anugerah yang diterimanya itu. Kira-kira resikonya apa, yang dipunyai oleh Maria? Resikonya ada tertulis juga disini. Di kitab Injil yaitu, “ Waktu dia meminta kepada Yesus dia tidak berkonsultasi dulu. Artinya apa, dia punya resiko bahwa dia bisa ditolak oleh Yesus sendiri. Dan memang itu yang terjadi Yesus mengatakan apa, “Waktuku belum tiba.”
Sekarang bapak-ibu sekalian, misalnya dalam situasi yang seperti ini apakah bapak ibu tidak merasa mangkel, atau misalnya kecewa. Misalnya bapak-ibu punya anak yang sudah bisa untuk disuruh-suruh. Saya ingat dulu waktu saya SMA saya punya teman ya panggil saja Dodik - lah. Dodik itu suatu saat disuruh ibunya untuk beli sesuatu di warung,
“Dod belikan telur”, Ibunya teriak begitu.
Lalu si Dodik juga menjawab, jawabannya persis yang dikatakan oleh Yesus, apa, “Waktuku belum tiba ibu.”
Ibunya kaget, apa yang dimaksud oleh Dodik waktuku belum tiba. Ya, sebetulnya Dodik itu males. Mengapa dia males karena masih tiduran. Kalau tiduran siapa yang mau disuruh-suruh seperti itu. Tapi artinya apa? Ibunya Dodik jadi mangkel karena jawaban sepeti itu. Dan kemungkinan Maria juga mempunyai perasaan seperti itu. Tetapi Maria percaya dan dia mempunyai iman kepada Yesus. Jika seandainya iman dari Maria kurang kuat mungkin dia akan berpikir, “Ya sudah aku ditolak oleh anakku sendiri aku harus mengurus masalah ini sendiri tanpa Yesus.” Justru bila Maria tidak mempunyai iman kepada Yesus. Tetapi akan imannya yang kuat Maria tetap sabar dalam permohonan dan ia meningglkan masalah ini dalam tangan Yesus sendiri. Yang penting Maria sudah tergerak hatinya dan berusaha membantu orang itu dengan meminta kepada Yesus. Sama juga seperti kita. Kalau kita mempunyai sebuah kebutuhan dan kita tidak tahu lagi bagaimana untuk menghidupi kebutuhan itu, kita pasrahkan kepada Tuhan kepada tangan Yesus sendiri.
Tema yang diangkat oleh Gereja pada minggu ini adalah: “Jadilah bagian dari solusi.” Tetapi kalau kita jujur dengan diri sendiri kita seringkali, kita itu malah menjadi bagian dari masalah atau malah menjadi biang dari permasalahan, jauh dari solusi. Dan saya secara pribadi mencoba untuk tidak menjadi bagian dari masalah. Contohnya apa? Tadi waktu menutup Injil saya tidak bernyanyi, artinya apa saya dari pada membuat masalah kepada bapak-ibu yang mendengarkan suara saya yang nggak enak lalu perutnya sakit, akhirnya nggak bisa ikut misa dengan tenang. Dari pada saya menimbulkan masalah mending saya nggak usah menyanyi.
Kita juga seringkali bukan bagian dari solusi tetapi menjadi masalah. Apa yang hidup di tengah masyarakat kita pada saat ini yang menjadi perhatian utama. Kita setiap hari di suguhkan sinetron Pansus Century. Padahal kalau kita lihat orang-orang yang terlibat dalam pansus atau menjadi saksi dalam kasus ini adalah orang-orang yang mempunyai talenta, mempunyai karunia yang besar. Seharusnya mereka bisa menjadi orang-orang yang membimbing negeri ini menjadi negeri yang lebih baik. Tetapi apa yang terjadi, dari sinetron ini dan dagelan ini orang-orang yang bertalenta besar ini hanya membuat kisruh. Lalu hubungan dengan kita disini apa, yang ikut misa pada sore hari ini di sini, paling tidak kalau tidak mau mengatakan umat kristen, umat katolik seluruhnya?
Lewat iman kita dibaptis dan dari situ pembaptisan itu mengalirlah karunia-karunia yang kita terima. Bermacam-macam karunia yang kita terima. Mengapa macam-macam karunia diberikan kepada macam-macam orang. Manusia, kita adalah bukan mahluk hidup yang bisa hidup sendiri. Tetapi mahluk yang bisa hidup bersama dengan mahluk lain, dengan manusia-manusia lain. Untuk inilah Allah mengaruniakan karunia yang berbeda-beda untuk setiap orang. Dan ini dikaruniakan untuk kepentingan kita bersama. Karunia yang diberikan Allah bagi kita, bisa dikatakan sebagai panggilan dari Allah untuk kita untuk mengisi hidup dan mengisi dunia yang kita hidupi ini. Seperti Maria yang menyadari akan karunia yang ada padanya dan tidak hanya sadar saja tetapi paham, harus berbuat apa dengan karunia yang ada pada dirinya, kita pun dipanggul untuk mewujudkan karunia yang kita punya.
Majalah tempo beberapa edisi yang lalu membawa sebuah edisi khusus mengenai edisi pengusaha kecil. Dan disitu ada contoh para bisnisman dari Yogya masih muda, sangat muda sekitar usia 25 tahun dan dia bukan dari latar belakang pengusaha, tetapi dari kebutuhan akan uang akhirnya dia membuat londry, pencucian baju. Dan setelah beberapa tahun belum sampai lima tahun dia sudah berhasil sampai masuk ke majalah Tempo artinya bukan main-main orang ini.
Terus juga ada yang lain. Mungkin bapak-ibu melihat di depan ini ada seperangkat alat, nanti untuk persiapan nanti EKM ekaristi kaum muda. Para misionaris Mertyoudan akan melayani misa EKM nanti. Apa yang bisa kita petik dari situ. Mereka berusaha mewujudkan karunia yang mereka terima bagi dunia di mana mereka hidup. Dan rasa syukur yang kita punya karena karunia yang dilimpahkan kepada kita apakah hanya untuk kita sendiri. Karunia yang ada pada Maria dibagikan untuk kebahagiaan orang yang mempunyai pernikahan di Kana. Saat kita mewujudkan karunia yang kita punya bukan hanya kita yang bertindak tetapi juga Sang PEMBERI, dalam huruf besar yang dengan tangan-tanganNya yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan mewujudkan apa yang hendak kita lakukan. Saat kita berinteraksi dengan orang lain dan juga mewujudkan apa yang menjadi karunia yang ada pada diri kita, kita sebetulnya juga berinteraksi dengan sang Pemberi, Allah sendiri.
Salah satu contoh lagi yang bisa saya angkat dari dua bacaan ini adalah: Saya beberapa hari yang lalu, menyiapkan kotbah ini atau homili ini saya mendengarkan lagu jika kami bersama judulnya. Yang menyanyikan itu Super-man is death sama Shagy dog. Ada bagian dari lagu itu yang sungguh menarik dan buat saya cocok. Untuk homili pada sore hari ini. Bapak ibu, dan saudara-saudari sekalian bisa mempunyai lagu-lagu yang lain. Tapi ini paling tidak dari saya yang bisa saya ungkapkan. Kami di sini akan terus bernyanyi, artinya apa, mempunyai karunia, untuk bernyanyi. Diberikan kepada siapa? Kepada semua orang yang mau mendengarkan. “Dan jika kami bersama nyalakan tanda bahayamu akan menghentak anda akan tersentak, jika bersama tidak sendiri. Aku dan dia, aku dia dan mereka, memang dia memang beda. Aku adalah kamu muda beda dan berbahaya.” Artinya apa, masing-masing mempunyai karunianya sendiri-sendiri. Untuk apa, untuk semua orang. Dan jika kita bersama, menyalakan karunia yang ada maka hidup kita, hidup kamu, dan hidup saya akan terhentak bahwa hidup ini tidaklah membosankan karena hidup ini tidaklah dijejali dengan rasa dan karunia yang sama. Coba bayangkan kalau kita semua mempunyai karunia yang sama, semua pinter semua. Nanti nggak ada yang olok-olok wah goblok lho, seperti itu. Banyak karunia. Orang goblok pun punya karunianya sendiri yang orang pinter juga belum tentu punya. Bunda Maria sudah memberi contoh, dengan bertindak, kita juga pasti bisa berbuat sesuatu berdasar karunia yang kita punyai. Karunia itu bagaikan api, tenaga yang menggerakkan hidup. Dan itu ada di diri saudari-saudara sekalian. Kenapa? Karena Yesus ada di dalam diri saudari-saudara sekalian. Dan itu adalah karunia, gali dan kenali arti itu yang menggerakkan termasuk kenali resiko yang membuat api itu kurang menjadi besar. Apa yang menghambat karunia itu untuk keluar, untuk diwujudkan dari diri saudari-saudara sekalian. Bakarlah dirimu dengan karunia itu. Amin.

Kotbah Romo Stephanus Hari Suparwito, SJ

" Menjadi Sarana Pewarta Keselamatan"
Ekaristi Tgl 24 Januari 2010
Injil Lukas 1 : 1 – 4; 4 : 14 – 21


Untuk menyampaikan kabar baik, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Bapak ibu dan saudara-saudariku yang terkasih, bacaan Injil minggu hari ini menantang kita, menantang kita untuk menjadikan kita sebagai pewarta, bahwa tahun rahmat Tuhan sudah datang. Pewarta kabar gembira, pewarta kabar baik, keselamatan bagi semua orang.
Kalau kita lihat sepertinya kok apa yang kita ketahui di dunia ini seakan-akan tahun rahmat Tuhan itu belum datang. Seakan-akan bahwa kese-lamatan itu belum nampak di antara kita. Beberapa hari yang lalu kita di- guncangkan dengan berita gempa di Haiti. Beberapa hari yang lalu kita digemparkan dengan kamar dari Artalita, Ayin. Beberapa hari yang lalu kita digemparkan dengan peristiwa sporter bonek, Persebaya. Lalu di mana itu keselamatan, lalu di mana itu kebahagiaan, lalu di mana tahun rahmat Tuhan? Yang dikatakan sudah datang, kalau akhirnya yang kita lihat adalah bencana, ketidakadilan, ketidak jujuran, kejahatan, yang ada dan bahkan mungkin semakin merajalela di dunia ini. Itulah yang tadi saya katakan bahwa bacaan ini menantang kita sebenarnya, menantang kita apakah kita tetap setia tanpa putus asa, tetap yakin beriman, bahwa tahun rahmat Tuhan sudah datang. Bahwa keselamatan itu ada di antara kita di dunia ini. Dan kitalah pewartaNya. Ketika kita dibaptis sebenarnya kita dipersatukan dengan tugas-tugas yang diterima oleh Tuhan sendiri. Dalam bacaan pertama tadi, kita melihat bagaimana kita disatukan dalam pembaptisan, dipersatukan dengan apa yang dahulu sudah diterima juga oleh Yesus. Dan kalau kita cermat sebenarnya bacaan Injil yang baru saja kita dengar itu, perikop sebelumnya menceritakan tentang pembaptisan Tuhan. Kemudian dilanjutkan dengan pencobaan Tuhan di padang gurun. Kemudian perikop yang kita baca tadi itu muncul dan berikutnya adalah perikop di mana Tuhan sendiri ditolak oleh orang-orang Nazaret.
“Siapa kamu itu, kamu itu kan anaknya Yusuf, tukang kayu, tetangga kita, mengenal semua keluarganya. Lalu kok bisa-bisanya kamu mengatakan bahwa tahun rahmat Tuhan sudah datang, menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, pembebasan kepada para tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta. Kalau kita kembali kepada situasi hidup kita, rasa-rasanya kok sepertinya sia-sia.
“Sia-sia romo, kalau kita mau mewartakan kabar baik, wong situasinya seperti ini. Mana tidak ada lagi keselamatan. Seakan-akan ngoyoworo. Kita sudah berusaha tapi hasilnya sama saja.”
Tetapi pertanyaannya adalah apakah dengan begitu lalu kita duduk tenang, duduk manis, apakah dengan begitu lalu kita nglokro? Tidak lagi menjadi pewarta kabar sukacita. Tidak lagi menjadi pewarta bahwa tahun rahmat Tuhan sudah datang. Pembaptisan seharusnya menjadi peneguhan bagi kita, bahwa kita diikutsertakan dalam suka duka Tuhan. Kita dilibatkan dalam tugas perutusan Tuhan sendiri dan itu berarti kita harus sadar konsekuensi apa yang kita terima. Konsekuensi untuk dilecehkan, konsekuensi untuk tidak diterima, konsekuensi untuk dikatakan sok suci. Konsekuensi tidak diterima oleh lingkungan kita. Pertanyaan sekarang adalah: berani tidak kita melakukan itu? Berani tidak kita mengatakan bahwa ini yang adil, itu yang tidak adil. Berani tidak mengatakan bahwa ini tidak jujur, itu yang jujur. Mungkin kita tidak perlu pergi ke Haiti, mungkin kita tidak perlu berdemo di depan rutan tempat Artaliyta singgah. Tetapi kita dapat melihat dalam keluarga kita sendiri, di tempat kerja kita. Apakah kita sudah jujur kepada isteri, kepada suami, kepada anak-anak. Apakah kita sudah jujur kepada bawahan kita di tempat kerja, apakah kita sudah adil kepada mereka semuanya itu ? Bahkan kalau sekarang orang mulai egois, tidak memberi perhatian kepada sesamanya. Apakah aku memberi perhatian pada sesamaku, orang yang tinggal di dekatku, orang yang hidup kesehariannya ketemu dengan aku?
Bapak-ibu dan saudari-saudariku terkasih, suatu kali ada seorang pastor. Romo ini begitu perhatian, pastor ini begitu perhatian kepada umatnya. Dia mengenal umatnya dengan baik satu persatu di kenal dengan baik. Dan tentu saja karena umatnya itu beraneka ragam maka ada umatnya yang pemabuk. Dia ingat bener bahwa umat itu adalah seorang pemabuk, tetapi umat ini juga rajin pergi ke gereja.
Suatu kali malam orang ini mabuk-mabukan dan paginya pergi ke gereja dan dia duduk di bagian depan, tidak berarti yang duduk di bagian depan ini tadi malem mabuk-mabukan. Ketika romo ini tahu bahwa umat tadi matanya masih merah, jalannya sempoyongan maka dia mengatakan tadi malam pasti mabuk ini. Maka dalam kotbahnya dia mengatakan begini, “Bapak ibu dan saudara-saudariku yang terkasih kita harus hati-hati, setan itu ada di depan kita.”
Romonya konfrontasi, “Daripada begitu saya tak pindah ke tengah.” Maka dia pindah ke tengah.
Romonya meneruskan, “Bapak-ibu dan saudara-saudara terkasih ingatlah bahwa setan itu tidak hanya di depan kita tetapi setan itu ada di tengah-tengah kita.”
Dia semakin panas hatinya. “Kurang ajar romo ini ngrasani, dari pada begitu aku tak pindah ke belakang ah siapa tahu kan tidak kelihatan dibelakang.” Maka dia jalan ke belakang. Ketika ia jalan ke belakang, romonya mengatakan begini, “Bapak-ibu dan saudara-saudariku yang terkasih, sekali lagi saya katakan, bahwa setan itu tidak hanya ada di depan, tidak hanya ada di tengah-tengah kita, tetapi setan itu sekarang berjalan ke belakang.”
Dan dia dengan marah sekali keluar dari gereja dan mengatakan, “Yooo...nyindir terus katanya begitu”
Apa yang ingin saya katakan, ketika kita dibaptis, ketika kita diikutsertakan dalam tugas-tugas Yesus dan ketika kita menerima konsekwensi untuk tidak diterima apakah kita putus asa dengan kejadian semacam itu. Ataukah kita sebaliknya kita tetap setia mewartakan bahwa karya keselamatan Tuhan sudah datang, bahwa Allah itu bekerja di dunia ini dalam situasi apapun. Ataukah sebaliknya justru kita mengatakan yah sia-sia, sia-sia aku dibaptis dulu, sia-sia aku mewartakan, untuk apa lagi. Karena dunia rupanya seperti ini.
Kita dipanggil untuk setia mewartakan karya keselamatan Allah. Kita dipanggil untuk terus menerus tanpa putusasa mewartakan bahwa Allah sungguh sudah datang Allah sungguh berkarya di tengah-tengah kita. Dan kita dikuatkan oleh karena Roh Allah sendiri, roh yang sama yang juga diterima oleh Yesus pada saat pembaptisan, roh yang selalu menghidupkan kita. Roh yang selalu menyemangati kita. Roh yang selalu membimbing kita. Roh itulah yang hidup dalam diri kita. Maka kita bisa bertanya kalau kita sudah dibaptis lima puluh, lima belas, tiga puluh tahun, pertanyaan adalah, apakah roh Allah itu tetap hidup menyemangati aku, menyemangati kita sehingga kita tetap setia tanpa putus asa menjadi pewarta tahun rahmat Tuhan sudah datang, tahun di mana Allah berkarya, keselamatan ada di tengah-tengah kita? Amin.

Kotbah Romo Redemptus Hardo Putranto, SJ

"Dipanggil dan di utus untuk semua.”
Ekaristi Tgl 31 Januari 2010
Injil Lukas 4 : 21-30

Saudara-saudara yang terkasih, ada kisah kecil ini. Ada seorang saudagar Yahudi kaya raya berpergian naik kereta ke kota besar. Dalam berpergian keretanya sudah duduk seorang tua berpakaian hitam sangat sederhana orangnya berjenggot. Orang tua itu menyapa saudagar yang baru datang ini ingin menyalaminya. Tetapi saudagar itu menolak, ia pura-pura sibuk menaruh kopernya di tempat duduk. Dalam perjalanan lagi-lagi orang tua ini mencoba mengajak bicara saudagar kaya raya ini, tetapi saudagar ini dingin-dingin saja, dia tidak mau menanggapi apa-apa. Dalam perjalanan sampai akhir keduanya lalu hanya diam saja.
Ketika mereka tiba di kota besar kebetulan kebetulan keduanya menuju ke kota yang sama, saudagar itu melihat bahwa di stasiun itu dipenuhi oleh kerumunan banyak sekali orang mereka melambai-lambai sambil bersorak bergembira memasang sepanduknya, “Selamat datang rabi yang kami cintai. “ lalu ketika turun orang tua yang berjenggot ini mendahului saudagar itu dan saudagar ini disambut dengan meriah oleh kerumunan orang banyak. Tahulah dia bahwa orang yang duduk di sampingnya ini adalah seorang rabi yang sangat terkenal, dan dia tahu bahwa seorang Rabi yang termashur sebagai guru, arif saleh dari Eropa.
Saudagar ini begitu malu terkejut dan dia menyesal lalu dia merangkul rabi itu meminta maaf berkali-kali ingin menciumi tangannya pula.
Saudara terkasih kisah pendek ini mau berkata, bahwa kita itu cenderung untuk menilai orang hanya dari segi luarnya, dari penampilannya. Orang yang berpenampilan rapi, berpakaian mahal itu akan kita rasakan seperti orang penting yang harus dihormati. Tetapi sebaliknya orang yang berpakaian sederhana, seadaanya barangkali sudah tua lagi orang seperti itu nggak usah kita perhatikan pasti tidak ada hal yang penting yang dibawanya.
Nah sikap seperti itulah yang dipunyai orang-orang di Nasaret, di rumah ibadat Yahudi, di Sinagoga. Ketika Yesus menyampaikan kabar atau amanat memaklumkan bahwa tahun rahmat Tuhan sudah datang, orang lain Nasaret ini tadinya sangat heran kagum tapi kemudian ragu-ragu karena mereka tahu siapa Yesus, itu datang dari kampung kita saja dari Nasaret. Ia anak tukang kayu yaitu Yoseph dan Maria. Mereka tahu latar belakangnya. Mereka kenal Yesus. Sehingga mereka tergusur anak seperti itu mewartakan tahun rahmat Tuhan yang tidak lain adalah pemenuhan dari janji keselamatan kepada umat manusia.
Saudara-saudara terkasih, orang Nazaret sudah mendengar bahwa di Kaparnaum dan di kota-kota lain di Palestina, Yesus banyak membuat mukjizat. Menyembuhkan orang mengusir setan, dan mengajar dengan penuh wibawa. Mereka juga ingin bahwa Yesus melakukan hal yang sama di kotanya. Tapi karena mereka itu ragu-ragu Yesus tidak menanggapi keinginan dan harapan mereka. Yesus diharapkan oleh mereka untuk menunjukkan kuasaNya bahwa Dia sungguh-sungguh diutus oleh Allah sebagai nabi. Tapi Yesus tidak ingin pamer kuasa, Yesus bukan tukang sulap, mukjizat itu tanda kedatangan tahun rahmat Tuhan atau kerajaan Allah tapi juga berbahaya karena orang lalu hanya menggangap tahun rahmat Tuhan itu berarti datangnya banyak mukjizat dan Yesus menjadi tukang pembuat mukjizat. Maka Dia tidak melayani keinginan mereka. Karena itu mereka juga sangat kecewa dan mereka nolak Yesus. Menolak Yesus tidak mau mendengarkan Dia lagi. Yesus yang diharapkan Ia menurut pandangan mereka itu adalah seorang yang menjadi nabi yang besar akan membawa keuntungan – keuntungan dari korban keistimewaan bagi bangsa terpilih, bagi penduduk Nazaret. Tapi dia tidak berbuat apa-apa. Lalu Yesus diseret keluar kota.
Saudara terkasih mungkin kita itu berpikir bodoh betul orang Nazaret ini tidak mau melihat realita, tapi kalau kita berpikir demikian, “Orang Nazaret kita anggap picik dan bodoh karena menolak Yesus dan dengan itu warta keselamatan tidak diberikan bagi mereka.” Kita sendiri juga boleh bertanya, apakah kita juga membuka hati kita untuk menerima Yesus dan pewartaanNya. Boleh orang itu menolak orang lain, karena orang lain tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, kita harapkan dengan prasangka dan pendapat yang sudah kita punyai dengan ide-ide yang sudah ada pada kita seperti mereka orang Nazaret punya ide sendiri tentang Mesias pembawa kerajaan Allah. Pewarta tahun rahmat Tuhan. Tapi ini lain, ini orangnya sederhana. Demikian maka mereka menolak Yesus. Kitapun sering demikian kita sering menolak pewartaanNya, kalau Yesus tidak memenuhi harapan dan keinginan kita. Lihatlah kalau doa-doa kita tidak dikabulkan.
Saudara-saudari terkasih mungkin ada lagi Yesus tidak kita terima secara penuh oleh karena Dia itu kata-kataNya kalau kita baca dalam Injil sering kali mengatakan hal-hal atau tuntutan yang berat bagi kita untuk melaksanakannya. Kita ingat cerita pemuda kaya yang datang kepadaNya bagaimana dia akan menjadi sombong lalu Yesus berkata, “Juallah hartamu bagikanlah kepada kaum miskin.” Pemuda ini pemuda kaya, untutan Yesus ini terlalu berat, maka dia meninggalkan Yesus.
Kemudian seringkali Yesus itu begitu mengasihi orang-orang yang menderita, yang sakit, yang lapar, yang miskin. Yesus juga mencharge kita supaya kita peduli kepada mereka, memberi makan kepada yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, memberi minum bagi yang haus, mengunjungi para tahanan, dan menguatkan mereka yang lemah dan sakit. Berat tuntutan Yesus kepada kita, sehingga kita itu menjauh tidak mau mendengar atau menutup diri pada Yesus. Kemudian masih ada lagi halangan yang sering kita punyai yaitu, kalau kita pikir-pikir Yesus ini suka mengusik kita, suka menantang kenyamanan dan kesenangan hidup kita, kemapanan kita. Dia berkata, “ Kalau kamu mencintai orang yang mencintai kamu atau menolong orang yang sudah menolong kamu apa istimewanya. Orang berdosapun demikian, pemungut cukaipun demikian. Bahkan saudara-saudara terkasih penjahat-penjahatpun pasti membalas budi orang berbaik kepadanya.
Atau kata-Nya lagi, berilah pipi kirimu bila orang menampar pipi kananmu. Dan lagi cintailah musuh-musuhmu doakanlah mereka yang menganiaya kamu. Bukankah ini kata-kata Yesus, amanat Dia, yang bagi kita itu membuat tidak mapan, tidak nyaman lagi.
Saudara-saudara terkasih kita semua sebetulnya ingin sungguh-sungguh menerima Tuhan kita. Kalau kita menerima Tuhan kita berarti kita juga harus mewartakan apa yang kita terima. Kasih Bapa yang mengampuni kita keimannya untuk membangun perdamaian dan persaudaraan dengan semua bangsa. Semua ini menjadi tugas kita menjadi bakti, tetapi betapa susahnya tuntutan ini kita dipanggil menjadi saksi tetapi mengakui dengan lidah saja di depan orang banyak di depan orang lain yang tidak seagama misalnya kita malu kita tidak berani kita menyembunyikan diri bahwa kita itu orang katolik.
Tapi saudara tahun rahmat diwartakan kepada kita. Artinya Tuhan itu kendati apapun yang kita punyai Ia membawa kepada kita pengampunanNya dan memberikan rahmat yang berlimpah-limpah untuk kita bagikan kepada orang lain. Kita bahkan dapat lebih menerima Dia secara penuh apabila kita membuka diri berkenan rendah hati mau mendengarkan Dia, berani melawan ego-ego kita yang sudah ada ataupun keinginan kita sendiri dan kita mau bekerja sama dengan rahmat Tuhan dalam hidup kita. Tuhan dimana-mana selalu ingin datang kepada kita. Dia ingin hadir tetapi secara tersamar tersembunyi pada orang-orang yang sederhana, yang mungkin diluar dugaan, prasangka ataupun keinginan kita. Mari kita mohon agar supaya hati kita terbuka untuk mendengar dan mengikutiNya dan pewartaanNya. Amin.

Selasa, 16 Februari 2010


Masukkan Code ini K1-BA4C5C-6
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com